Ilustrasi perekonomian di Indonesia (IDN Times/Arief Rahmat)
Nailul Huda menjelaskan dengan tambahan uang yang beredar, idealnya masyarakat akan lebih mudah mengakses kredit untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli barang atau properti, maupun untuk kebutuhan produktif, seperti investasi dalam bisnis atau UMKM. Bagi mereka yang sebelumnya terhambat dalam mendapatkan pembiayaan, kredit dengan bunga lebih rendah bisa menjadi solusi untuk memperbaiki atau mengembangkan usaha mereka.
Lebih jauh lagi, dari sisi makroekonomi, penempatan dana di perbankan dapat mempercepat siklus pertumbuhan ekonomi. Ketika dana tersebut disalurkan, likuiditas meningkat, suku bunga kredit turun, konsumsi masyarakat naik, dan investasi bertambah.
Pada akhirnya, semua ini akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Inilah yang disebut dengan multiplier effect, yang menjadi salah satu harapan utama pemerintah. Sebuah kebijakan fiskal yang sederhana, namun diharapkan dapat memberikan dampak berantai yang besar pada perekonomian nasional.
Tak kalah penting, kebijakan ini juga dapat meningkatkan kepercayaan pasar. Ketika pelaku usaha melihat pemerintah aktif mendukung likuiditas perbankan, keyakinan mereka terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia pun semakin kuat.
Hal ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investor, baik domestik maupun asing, yang melihat Indonesia memiliki kebijakan fiskal yang adaptif dan proaktif dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Namun, ada satu hal yang perlu dicermati dalam pelaksanaannya. Meskipun jumlah uang yang beredar meningkat, kenyataannya permintaan kredit dari masyarakat masih relatif rendah. Oleh karena itu, pemerintah perlu memantau perbankan Himbara dengan ketat setelah penempatan dana Rp200 juta tersebut.