Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BI Tahan Suku Bunga Acuan, Kurs Rupiah Bertengger di Rp16.997
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
  • Rupiah ditutup stagnan di Rp16.997 per dolar AS menjelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri 2026, setelah sempat menguat tipis pada awal perdagangan.
  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI7DRR di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
  • Pengamat memprediksi rupiah berpotensi melemah usai libur panjang, dengan kisaran perdagangan diperkirakan antara Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah mengalami stagnansi atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (17/3/2026).

Kurs rupiah mengakhiri perdagangan di Rp16.997 per dolar AS, sebelum libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026.

Mengutip data Bloomberg, kurs sempat dibuka menguat 21 poin ke Rp16.976 per dolar AS pagi tadi. Hari ini, kurs rupiah bergerak di rentang Rp16.968-17.006 per dolar AS.

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp16.982 per dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah pada penutupan kemarin, Senin (16/3/2026) yang ada di level Rp16.990 per dolar AS. Data JISDOR BI menunjukkan rupiah mengalami penguatan pada sore ini dibandingkan kemarin.

2. BI antisipasi perang di Timur Tengah

Menurut Pengamat Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi, pergerakan nilai tukar rupiah didorong oleh keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) BI sejak 16-17 Maret 2026 yang mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility 5,5 persen.

Ibrahim melihat keputusan BI bertujuan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan juga inflasi di tengah eskalasi perang Timur Tengah.

“Kenapa BI masih tetap pertahankan subung tinggi sampai saat ini? Karena kita melihat kondisi ekonomi global yang tidak menentu akibat perang di Timur Tengah,” ucap Ibrahim dalam keterangannya.

3. Rupiah diprediksi melemah usai libur panjang

Melihat kondisi secara menyeluruh, baik eksternal maupun internal, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS setelah libur panjang Nyepi dan Lebaran.

”Dalam perdagangan di tanggal 24 Maret, setelah libur panjang, kemungkinan besar rupiah akan diperdagangkan cukup melebar, di Rp16.990 sampai di Rp17.075,” tutur Ibrahim.

Editorial Team