Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BNI: Outlook Negatif Moody’s Tak Cerminkan Penurunan Kinerja Bank
Gedung Bank Negara Indonesia (bni.co.id)

Intinya sih...

  • Fundamental BNI dinilai tetap terjaga. Di sisi lain, permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level sehat serta sesuai ketentuan regulator.

  • BNI akan terus mengedepankan pengelolaan bisnis yang hati-hati dan berkelanjutan melalui penguatan tata kelola serta manajemen risiko. Strategi penyaluran kredit tetap dilakukan secara selektif dan terukur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menegaskan perubahan outlook lembaga pemeringkat Moody’s dari stabil menjadi negatif terhadap sejumlah bank tidak mencerminkan penurunan kinerja maupun peningkatan risiko internal perseroan.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, posisi BNI masih berada pada level investment grade. Hal ini tercermin dari capaian kinerja hingga akhir 2025 yang tetap solid.

“Perubahan outlook Moody’s tersebut sejalan dengan penyesuaian outlook sovereign Pemerintah Indonesia dan tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI,” ujar Okki kepada IDN Times, Jumat (13/2/2026).

1. Fundamental BNI tetap terjaga hingga 2025

Ilustrasi kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. (dok. BNI)

Okki menjelaskan, hingga akhir 2025, fundamental BNI dinilai tetap terjaga.

Di sisi lain, permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level sehat serta sesuai ketentuan regulator. Struktur pendanaan pun dikelola secara prudent.

2. Pengelolaan bisnis BNI dilakukan hati-hati

Gedung BNI (dok. BNI)

Selain itu, BNI akan terus mengedepankan pengelolaan bisnis yang hati-hati dan berkelanjutan melalui penguatan tata kelola serta manajemen risiko. Strategi penyaluran kredit tetap dilakukan secara selektif dan terukur dengan mengutamakan kualitas aset dan prinsip kehati-hatian.

Selain itu, BNI juga terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan pasar.

3. Profitabilitas BNI diperkirakan tertekan akibat penyempitan net interest margin (NIM)

Ilustrasi Bank BNI (bni.co.id)

Moody's Ratings merevisi outlook kredit lima bank nasional dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tidak mengubah peringkat kredit masing-masing bank.

Adapun lima bank yang terdampak yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

“Moody’s Ratings hari ini mengubah outlook lima bank Indonesia menjadi negatif dari stabil,” tulis Moody’s.

Dalam keterangannya, Moody’s menjelaskan, revisi outlook tersebut dilakukan setelah lembaga itu mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada 5 Februari 2026.

Peringkat sovereign Indonesia tetap dipertahankan dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi yang dinilai masih berlanjut, ditopang faktor struktural seperti basis sumber daya alam yang besar dan demografi yang kuat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.

Khusus untuk BNI, Moody’s menilai bank ini memiliki permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil. Namun, profitabilitas BNI dinilai relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya.

Ke depan, profitabilitas BNI diperkirakan tertekan akibat penyempitan net interest margin (NIM). Peringkat tersebut juga mempertimbangkan risiko kualitas aset yang berasal dari kredit restrukturisasi dan special mention loans (SML), meski secara keseluruhan kualitas aset diproyeksikan tetap relatif terjaga.

“Peringkat simpanan Baa2 mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, sehingga terdapat uplift satu notch dari Baseline Credit Assessment (BCA) baa3,” tulis Moody’s.

Editorial Team