Jakarta, IDN Times - China, sebagai produsen rare earth atau logam tanah jarang terbesar di dunia, mencatat volume ekspor elemen tanah jarang mencapai level tertinggi sejak setidaknya 2014, dengan total 62.585 ton metrik sepanjang 2025. Pencapaian ini terjadi meskipun pemerintah mulai membatasi pengiriman beberapa elemen medium hingga berat sejak April 2025 sebagai bagian dari strategi pengendalian sumber daya kritis.
Ekspor yang melonjak ini mencerminkan permintaan global yang kuat terhadap bahan baku penting untuk teknologi tinggi, termasuk baterai kendaraan listrik, turbin angin, dan chip semikonduktor. Meski ada pembatasan ekspor, China tetap mendominasi sekitar 60-70 persen pasokan rare earth dunia.
