ilustrasi pelabuhan peti kemas (pexels.com/Kelly)
Banyak kelompok bisnis internasional menilai aturan baru ini terlalu luas dan gak cukup jelas. Presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China, Jens Eskelund, menjelaskan bahwa ancaman larangan keluar negeri bagi individu menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan karena proses hukumnya gak transparan. Kondisi ini membuat banyak eksekutif asing merasa lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis jangka panjang di China.
Michael Hart dari Kamar Dagang Amerika di China juga menilai perusahaan asing gak diajak berdiskusi saat aturan ini disusun. Ia memberi gambaran bahwa jika kejelasan hukum gak segera diperbaiki, justru semakin banyak perusahaan asing yang akan mempercepat strategi pengurangan risiko bisnis mereka dari China. Artinya, aturan yang dibuat untuk menahan perusahaan bisa saja menghasilkan efek sebaliknya.
Langkah China menerapkan aturan baru ini menunjukkan betapa pentingnya rantai pasok bagi kekuatan ekonomi nasional mereka. Bukan hanya soal perdagangan, tapi juga soal keamanan, pengaruh global, dan posisi strategis dalam persaingan ekonomi dunia. Saat banyak negara mulai mendorong diversifikasi produksi, China memilih memperkuat kontrol agar dominasinya tetap terjaga.
Bagi perusahaan global, situasi ini membuat keputusan bisnis menjadi jauh lebih kompleks. Mereka harus menyeimbangkan antara peluang besar di pasar China dan risiko regulasi yang semakin ketat. Ke depan, persaingan rantai pasok global kemungkinan akan semakin panas, dan China jelas gak mau kehilangan posisi utamanya begitu saja.