Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuaca Ekstrem Intai India, Beban Listrik Diprediksi Melonjak Tajam
Bendera India (unsplash.com/Girish Dalvi)
  • India bersiap menghadapi lonjakan permintaan listrik tertinggi sepanjang sejarah akibat cuaca ekstrem dan gangguan pasokan energi global, dengan pemerintah mengaktifkan langkah darurat menjaga kestabilan jaringan nasional.
  • Eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz memicu krisis pasokan gas ke India, mendorong masyarakat beralih ke listrik dan menambah tekanan besar pada sistem tenaga negara itu.
  • Pemerintah India memperkuat stok batu bara, menunda perawatan pembangkit, serta mempercepat proyek energi terbarukan untuk mengantisipasi lonjakan beban listrik hingga 283 GW selama musim panas mendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - India resmi mengumumkan permintaan listrik nasional diperkirakan akan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada musim panas mendatang. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, yang kini mulai mengancam stabilitas pasokan bahan bakar dunia.

Peningkatan konsumsi energi yang sangat besar ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan terganggunya impor gas alam, sehingga memberikan tekanan berat pada jaringan listrik negara dalam memenuhi kebutuhan pabrik maupun rumah tangga. Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Tenaga Listrik India kini sedang mengupayakan berbagai langkah darurat dan kerja sama antar lembaga untuk memastikan listrik tetap menyala bagi ratusan juta penduduk.

Otoritas terkait menyatakan bahwa langkah pencegahan ini mencakup optimalisasi stok batu bara dalam negeri dan pengaturan ulang jalur pengiriman barang. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya mati lampu massal yang dapat mengganggu ekonomi nasional di tengah ketidakpastian situasi global saat ini.

1. India perkuat stok batu bara

Kementerian Tenaga Listrik India kini tengah memperkuat koordinasi dengan perusahaan tambang batu bara nasional dan pihak kereta api untuk menjamin ketersediaan bahan bakar mulai April mendatang. Langkah ini diambil karena stok batu bara di lokasi tambang milik Coal India Limited telah mencapai rekor 121,39 juta ton per 9 Maret 2026. Pemerintah juga berencana mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh pembangkit listrik tenaga uap agar menunda jadwal perawatan rutin selama musim panas, sehingga produksi listrik tetap maksimal untuk menanggung beban jaringan yang diprediksi melonjak tajam.

Kementerian Batu Bara India memberikan jaminan cadangan energi nasional dalam posisi aman untuk menghadapi lonjakan permintaan tersebut.

"Stok batubara keseluruhan yang tersedia di negara ini adalah sekitar 210 juta ton, yang akan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar 88 hari," kata pihak kementerian, dilansir The Hindu.

Upaya penyelamatan ini juga mencakup pengaktifan kembali pembangkit listrik yang sedang tidak beroperasi melalui aturan darurat. Prioritas pengiriman batu bara lewat jalur kereta api akan difokuskan ke wilayah Utara dan Barat, yang mencatatkan rekor permintaan listrik masing-masing sebesar 86,7 GW dan 74,8 GW. Pemerintah terus memantau distribusi 156,58 juta ton batu bara yang ada di tambang maupun dalam perjalanan, demi memastikan setiap wilayah mendapatkan pasokan yang merata.

Untuk jangka panjang, India juga sedang membangun pembangkit listrik baru dengan kapasitas tambahan sebesar 97 ribu MW yang ditargetkan selesai pada tahun 2034 hingga 2035. Proyek besar ini disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan listrik masa depan yang diperkirakan mencapai 307 ribu MW.

2. Konflik Timur Tengah dan krisis Selat Hormuz ancam pasokan energi

Eskalasi konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah yang telah memasuki minggu ketiga mulai mengacaukan pasar energi internasional. Gangguan besar pada aliran minyak mentah dan gas alam cair (LNG) ini berdampak langsung pada kenaikan harga energi serta biaya logistik bagi negara pengimpor seperti India.

Penutupan jalur penting di Selat Hormuz bahkan menyebabkan penghentian total pasokan gas dari Qatar ke India, sehingga memaksa industri besar seperti pabrik pupuk dan penyulingan minyak untuk mengurangi operasional mereka akibat kelangkaan bahan bakar.

Kelangkaan gas elpiji yang biasanya melayani lebih dari 330 juta dapur di India juga memaksa pemerintah untuk memperpanjang masa tunggu pemesanan tabung gas. Situasi ini memicu masyarakat beralih secara mendadak ke penggunaan kompor listrik, yang akhirnya memberikan beban tambahan yang sangat besar pada jaringan listrik nasional. Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga barang kebutuhan pokok dan kenaikan biaya energi rumah tangga yang cukup tinggi di seluruh negeri.

3. India prediksi rekor lonjakan listrik capai 283 GW

Permintaan listrik di India diperkirakan akan melonjak hingga mencapai angka 283 GW selama periode cuaca ekstrem mendatang. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 13 persen dibandingkan rekor sebelumnya, yaitu 250 GW yang baru saja terjadi pada musim panas 2024.

Tantangan terbesar muncul pada malam hari saat kapasitas energi surya sebesar 140 GW tidak lagi beroperasi, sementara penggunaan AC tetap tinggi karena suhu udara yang panas. Kondisi ini memaksa sistem jaringan listrik bergantung sepenuhnya pada pembangkit berbahan bakar batu bara dan cadangan energi yang masih terbatas.

Sebagai strategi jangka panjang, India terus mempercepat pembangunan energi terbarukan, termasuk proyek raksasa di Khavda, Gujarat. Pemerintah menargetkan kapasitas penyimpanan energi sebesar 60,63 GW pada tahun 2030 untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Meskipun listrik di siang hari dinilai cukup berkat tenaga surya dan angin, ketidakpastian pasokan gas akibat konflik internasional membuat batu bara tetap menjadi tulang punggung utama. Hal ini dilakukan agar pembangkit listrik tetap bekerja maksimal guna mencegah kegagalan sistem kelistrikan nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team