Iran Izinkan 2 Tanker LPG India Lewati Selat Hormuz

- Iran mengizinkan dua kapal tanker LPG India melintas di Selat Hormuz meski jalur itu ditutup bagi sebagian besar kapal, sebagai bentuk hubungan persahabatan dan kerja sama energi dengan India.
- Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah serangan udara AS dan Israel ke Iran, memicu gangguan distribusi energi global; India mendapat pengecualian karena ketergantungan tinggi pada pasokan energi Timur Tengah.
- Iran menyiapkan penerbangan khusus dari Kochi untuk memulangkan pelaut dan jenazah korban serangan AS, termasuk awak kapal perang IRIS Dena yang tenggelam akibat torpedo kapal selam Amerika.
Jakarta, IDN Times – Iran mengizinkan dua kapal tanker gas petroleum cair alias liquified natural gas(LPG) berbendera India untuk melintas di Selat Hormuz. Keputusan tersebut terbilang tidak biasa karena Iran sedang menutup jalur strategis itu bagi sebagian besar kapal yang melintas. Dua kapal yang mendapat izin ialah Shivalik dan Nanda Devi milik Shipping Corporation of India (SCI), perusahaan pelayaran milik negara India.
Shivalik telah melewati selat tersebut dengan pengawalan kapal perang Angkatan Laut India. Kapal Nanda Devi dijadwalkan mengikuti jalur yang sama tak lama kemudian. Pemerintah Iran memastikan pelayaran aman itu pada Jumat (13/3/2026) melalui pernyataan Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali.
“Ya, karena India adalah teman kami. Anda akan melihatnya dalam dua atau tiga jam. Kami percaya bahwa Iran dan India memiliki kepentingan dan nasib yang sama di kawasan ini,” ujarnya, dikutip dari Times of India.
1. Serangan AS dan Israel memicu penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Situasi tersebut segera mengganggu jalur distribusi energi global karena selat itu menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati perairan tersebut, termasuk sebagian besar gas alam cair yang diangkut melalui jalur laut.
Iran menegaskan tidak akan mengizinkan kapal yang membawa muatan menuju AS maupun negara sekutunya untuk melintas. Di sisi lain, India memperoleh pengecualian setelah melakukan perundingan langsung dengan pemerintah Iran. Ketergantungan tinggi India terhadap pasokan energi dari Timur Tengah menjadi alasan utama permintaan tersebut.
Data tahun lalu menunjukkan konsumsi gas memasak di India mencapai 33,15 juta metrik ton. Sekitar 60 persen kebutuhan itu dipenuhi melalui impor, dan hampir 90 persen impor tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.
India kini menghadapi krisis gas paling berat dalam beberapa dekade. Pemerintah mengurangi alokasi gas bagi sektor industri agar ketersediaan elpiji rumah tangga tetap terjaga. Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi juga telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (12/4/2026) mengenai keamanan pergerakan barang serta energi dari kawasan Teluk.
2. Kapal tanker minyak mentah menuju kilang India

Selain dua tanker LPG tersebut, terdapat kapal tanker minyak mentah lain bernama Smyrni yang berbendera Liberia. Kapal berukuran suezmax itu memiliki kapasitas hingga 1 juta barel dan membawa minyak dari Arab Saudi. Smyrni telah melewati Selat Hormuz pada awal bulan ini dan dijadwalkan bersandar di salah satu pelabuhan India pada akhir pekan ini.
Muatan minyak tersebut akan dikirim ke perusahaan penyulingan milik negara, Hindustan Petroleum Corp (HPCL). Perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran di India, Dr Abdul Majid Hakeem Ilahi, menyebut pembicaraan mengenai pasokan energi sudah dilakukan dan ia meyakini India akan memperoleh manfaat dari minyak, gas, serta sumber daya lainnya.
Menurut Ilahi, penyelesaian penuh hanya dapat tercapai apabila para pemimpin dunia berkumpul dan mendatangi AS untuk meyakinkan Presiden Donald Trump bahwa perang tersebut tidak adil karena menyasar warga sipil dan perlu dihentikan. Ia juga menyampaikan tekanan perlu diarahkan kepada rezim Zionis agar konflik dihentikan, serta menegaskan Iran bukan pihak yang menciptakan atau memulai perang tersebut dan mereka siap mengorbankan nyawa tetapi tidak akan menjual martabatnya.
3. Iran menerbangkan pelaut dan jenazah korban serangan AS

Iran juga menyiapkan penerbangan khusus yang berangkat dari Kochi di India selatan. Pesawat tersebut membawa sejumlah pelaut dari kapal perang Iran yang berlindung di pelabuhan India serta jenazah awak kapal yang tewas akibat serangan militer AS.
Dilansir dari CNA, pesawat yang sama sebelumnya mendarat di Sri Lanka untuk menjemput 84 jenazah. Seluruh jenazah itu berasal dari kapal perang IRIS Dena yang tenggelam setelah terkena torpedo kapal selam AS. Saat peristiwa terjadi, kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti latihan angkatan laut bersama di India.
Jenazah para korban sempat disimpan di kamar mayat Rumah Sakit Nasional Galle di Sri Lanka selatan hingga pengadilan mengizinkan penyerahannya kepada Kedutaan Besar Iran. Setelah pesawat tiba di Kochi, awak kapal dari IRIS Lavan yang juga berlabuh di India ikut naik bersama beberapa warga Iran yang terjebak di negara tersebut.
Pesawat kemudian kembali lepas landas meninggalkan Kochi. Seorang sumber Iran mengonfirmasi keberangkatan itu, tetapi ia menolak memberikan rincian lebih jauh dengan alasan keamanan.
Sementara itu, kapal ketiga peserta latihan bernama IRIS Booshehr masih berada di Sri Lanka. Sebanyak 32 penyintas dari IRIS Dena dan 208 awak IRIS Booshehr hingga kini tetap berada di wilayah negara tersebut.

















