Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dampak Konflik Timur Tengah, Laba Toyota Turun Nyaris 50 Persen
Ilustrasi logo toyota (unsplash.com/Alexander Londoño)
  • Konflik di Timur Tengah membuat harga bahan baku melonjak, menimbulkan kerugian bagi Toyota hingga 4,3 miliar dolar AS dan mengganggu pasokan aluminium, resin, serta karet.
  • Laba operasi Toyota pada kuartal Januari–Maret 2026 turun hampir 50 persen menjadi 569,4 miliar yen, dengan proyeksi laba tahun fiskal berikutnya juga di bawah ekspektasi analis.
  • Di bawah kepemimpinan CEO baru Kenta Kon, Toyota fokus mengurangi pemborosan dan memperbaiki struktur perusahaan secara bertahap untuk menghadapi tekanan biaya dan kebijakan tarif global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Konflik geopolitik yang tengah berlangsung di Timur Tengah diprediksi akan memberikan tekanan berat bagi stabilitas keuangan Toyota Motor Corporation. Produsen otomotif raksasa asal Jepang tersebut memperkirakan adanya beban kerugian mencapai 4,3 miliar dolar AS (Rp75,25 triliun), pada tahun fiskal ini akibat lonjakan harga bahan baku dari kawasan Timur Tengah.

Tekanan biaya operasional tersebut turut berdampak pada laporan kinerja perusahaan yang mencatat penurunan laba kuartalan hingga hampir 50 persen pada periode Januari sampai Maret 2026. Pihak manajemen memperkirakan tren penurunan laba ini masih akan berlanjut, mengingat tingginya biaya produksi saat ini mulai melampaui angka permintaan kendaraan hibrida di pasar global.

1. Kenaikan harga bahan baku jadi beban terbesar Toyota

ilustrasi logo Toyota (unsplash.com/Brad Mills)

Dampak keuangan sebesar 4,3 miliar dolar AS (Rp75,25 triliun) tersebut sebagian besar karena kenaikan harga bahan baku. Toyota memperkirakan sekitar 400 miliar yen (Rp44,42 triliun) di antaranya berasal dari biaya bahan baku dan bahan bakar. Sementara itu, 270 miliar yen (Rp29,98 triliun) sisanya disebabkan oleh penundaan pengiriman dan penurunan jumlah penjualan.

"Dampak konflik di Timur Tengah terasa pada berbagai hal, mulai dari biaya bahan bakar, biaya transportasi, sampai biaya cat dan bahan lain yang dipakai di pabrik perakitan mobil," kata Takanori Azuma, Accounting Group Officer Toyota, dilansir Business Standard.

Toyota juga menyampaikan, pemasok utama mereka mulai melaporkan kekurangan pasokan aluminium, resin, dan karet sejak konflik masuk bulan ketiga. Sekitar 70 persen aluminium yang diimpor oleh pembuat mobil asal Jepang tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.

2. Keuntungan Toyota turun pada awal 2026

ilustrasi logo Toyota (unsplash.com/Christina Telep)

Toyota mencatat laba operasi sebesar 569,4 miliar yen (Rp63,23 triliun) untuk kuartal yang berakhir pada 31 Maret 2026. Angka ini turun dari 1,1 triliun yen (Rp122,16 triliun) pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi laba kuartalan terendah Toyota dalam tiga tahun terakhir.

Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2027, Toyota memperkirakan laba operasi mencapai 3 triliun yen (Rp333,16 triliun). Perkiraan ini berada di bawah hitungan gabungan dari 23 pengamat ekonomi yang menargetkan angka 4,59 triliun yen (Rp509,74 triliun).

"Tindakan dan langkah yang sudah kami ambil sebagian besar terbatas pada hal-hal yang bisa dilakukan dalam waktu dekat," kata Yoichi Miyazaki, Chief Financial Officer Toyota, dilansir Yahoo Finance.

Toyota juga melaporkan penurunan jumlah penjualan di kawasan Timur Tengah pada Maret 2026 setelah jalur pengiriman barang ke wilayah itu terganggu.

3. Cara pimpinan baru Toyota kurangi pemborosan perusahaan

ilustrasi logo Toyota (unsplash.com/HY ART)

Laporan keuangan ini adalah yang pertama kali diterbitkan pada masa kepemimpinan CEO baru, Kenta Kon. Sebelumnya, Kon menjabat sebagai CFO dan dikenal mampu mengendalikan pengeluaran perusahaan. Kon kini bertugas mengarahkan Toyota melewati dampak konflik Timur Tengah serta kebijakan tarif AS yang telah memotong laba operasi sebesar 1,4 triliun yen (Rp155,47 triliun) pada tahun fiskal sebelumnya.

Kon menegaskan bahwa perbaikan struktur perusahaan akan dilakukan secara bertahap.

"Ini bukan tentang menghentikan kegiatan produksi secara langsung, melainkan mencari tahu pemborosan satu per satu dan mengubah sistem secara perlahan untuk melakukan perbaikan," kata Kenta Kon.

Ia juga menghargai daya tahan Toyota dalam menghadapi tekanan bisnis. Kon memuji kemampuan perusahaan yang bisa mencetak laba operasi hampir 3,8 triliun yen (Rp422,01 triliun) pada tahun fiskal lalu, meskipun keadaan lingkungan bisnis banyak berubah.

Di sisi lain, Toyota menyatakan kemungkinan besar mereka tidak bisa menutupi seluruh kerugian dari wilayah Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team