Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dampak Pelemahan Rupiah Nyata 2-3 Bulan Lagi, Krisis Mungkin Terjadi
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS membuat biaya produksi naik dan harga kebutuhan pokok berpotensi melonjak dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
  • Ekonom memperingatkan risiko krisis ekonomi akibat penurunan cadangan devisa, melemahnya daya beli kelas menengah, serta ruang fiskal pemerintah yang makin terbatas.
  • Rupiah mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah di Rp17.614 per dolar AS, dipicu tekanan global seperti konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga The Fed.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat.

“Sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang di pasaran. Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Menurutnya dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat terasa dalam beberapa bulan berikutnya.

1. Industri masih bisa menahan dampak kenaikan sampai dua-tiga bulan

Wakil Komisi VIII DPR RI, Abdul Wahid meninjau pabrik makanan siap saji untuk katering jemaah haji Indonesia, PT Hati di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Menurut dia, industri memang masih bisa menahan kenaikan biaya melalui kontrak lama selama dua hingga tiga bulan. Namun setelah kontrak baru disesuaikan dengan kurs terkini, lonjakan biaya akan diteruskan ke harga barang konsumsi.

"Kenaikan harga mulai terlihat di berbagai sektor. Plastik kemasan mengalami kenaikan karena bahan bakunya berbasis minyak impor. Obat-obatan naik karena komponennya masih banyak yang impor, BBM non subsidi sudah naik, avtur naik tiket pesawat ikut naik dan harga LPG sudah naik," tegasnya.

Sementara itu, pemerintah masih menahan harga Pertalite melalui skema subsidi dan kompensasi energi. Namun kemampuan mempertahankan harga dinilai sangat bergantung pada kekuatan APBN dan kapasitas PT Pertamina menyerap selisih harga.

"Setiap rupiah melemah Rp100, defisit pemerintah (APBN) naik Rp0,8 triliun secara otomatis. Yang paling berbahaya bukan angkanya tapi ekspektasinya," tuturnya.

2. Krisis bisa saja terjadi

ilustrasi krisis ekonomi (Pixabay.com)

Ia menjelaskan krisis ekonomi dapat terjadi meski fundamental makroekonomi terlihat masih relatif baik. Dalam kondisi tertentu, persepsi pasar dapat berubah menjadi kepanikan kolektif atau self-fulfilling panic.

“Begitu pasar percaya krisis akan datang, pelaku ekonomi mulai bertindak seolah-olah krisis sudah terjadi. Tindakan itulah yang akhirnya memicu krisis sesungguhnya,” katanya.

Beberapa indikator mulai menjadi perhatian investor, mulai dari penurunan cadangan devisa terhadap kebutuhan impor, perlambatan daya beli kelas menengah, hingga ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit.

"Cadangan devisa kita turun dari 9 bulan impor menjadi 5 bulan impor. Kelas menengah daya belinya mulai melambat. Fiskal semakin sempit. Investor melihat semua itu dan mulai keluar. Dan pemerintah merespons dengan terlalu optimistik di komunikasi publik," tegasnya.

3. Rupiah terlemah sepanjang sejarah

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Ini menandai posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Pelemahan ini dipicu oleh tekanan pasar global, khususnya terkait kondisi konflik Timur Tengah, serta sentimen ekonomi dalam negeri yang masih menghadapi berbagai tantangan.

"Kenaikan harga minyak mentah memicu inflasi global, termasuk di Amerika Serikat. Pasar pun menyoroti kebijakan The Fed, yang cenderung menahan diri untuk memangkas suku bunga acuan. Kondisi ini membuat yield obligasi pemerintah AS naik, sekaligus memperkuat dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah," ujar Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).

Editorial Team