Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat.
“Sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang di pasaran. Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat terasa dalam beberapa bulan berikutnya.
