Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tembus Rp17.600, Ekonom Sebut Sudah Overshooting

Rupiah Tembus Rp17.600, Ekonom Sebut Sudah Overshooting
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah melemah hingga Rp17.600 per dolar AS, melampaui nilai fundamental dan masuk zona overshooting menurut peneliti CORE Indonesia, dengan fair value di kisaran Rp16.500–Rp17.000.
  • Tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan dolar AS, capital outflow dari pasar keuangan, serta kekhawatiran fiskal dan investasi yang memperburuk sentimen pasar domestik.
  • Yusuf menilai level Rp17.700–Rp17.800 menjadi titik krusial; tanpa kebijakan kredibel, rupiah berisiko menuju Rp18.000, namun stabilisasi masih mungkin jika koordinasi fiskal-moneter diperkuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai sudah melampaui kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut kondisi tersebut sebagai zona overshooting.

Menurut Yusuf, nilai wajar atau fair value rupiah saat ini seharusnya berada di kisaran Rp16.500 hingga Rp17.000 per dolar AS.

“Selisih dari level itu ke harga sekarang adalah premi yang dibayar pasar untuk tambahan risiko yang dirasakan terhadap Indonesia,” ujarnya kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).

Ia menjelaskan, perhitungan tersebut didasarkan pada diferensial inflasi, kondisi neraca berjalan, hingga risk premium negara berkembang dengan karakteristik ekonomi seperti Indonesia.

1. Dolar AS menguat dan capital outflow tekan rupiah

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Aditya Pratama)

Yusuf menilai tekanan terhadap rupiah dipicu sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah masih kuatnya indeks dolar AS di tengah ketidakpastian global akibat kebijakan dagang Presiden AS, Donald Trump.

Di saat yang sama, arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar surat berharga negara (SBN) dan pasar saham masih terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi itu tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah turun sekitar 19 persen sejak awal tahun.

“Pasar juga menyoroti kekhawatiran terhadap disiplin fiskal, terutama setelah defisit APBN kuartal I mencapai 0,93 persen terhadap PDB serta sejumlah keputusan ad-hoc yang dinilai membebani BUMN keuangan (Himbara),” katanya.

2. Kekhawatiran investasi dan surat Kadin China jadi sorotan

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain faktor eksternal, Yusuf menyebut pasar juga mulai menaruh perhatian pada iklim investasi di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah surat dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) China terkait kondisi investasi di tanah air.

Menurut dia, sentimen tersebut turut memperbesar tekanan terhadap rupiah di pasar keuangan.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sebenarnya telah melakukan berbagai langkah stabilisasi. Mulai dari intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara.

Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bahkan disebut sudah mendekati Rp1.000 triliun.

Namun, Yusuf menilai langkah BI sejauh ini baru mampu menahan pelemahan agar tidak semakin tajam.

“Pembalikan tren membutuhkan dukungan dari sisi fiskal dan perbaikan iklim investasi yang berada di luar mandat BI,” tuturnya.

3. Rupiah berisiko sulit dikendalikan jika sentuh Rp18.000

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Yusuf mengingatkan level Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS menjadi titik krusial yang wajib diwaspadai pemerintah dan pelaku pasar.

Jika rupiah menembus level tersebut tanpa intervensi yang kredibel, maka tekanan psikologis di pasar dinilai akan semakin besar.

"Ada risiko momentum psikologis yang lebih sulit dikendalikan di titik ini pasar mulai berhitung skenario Rp18.000 per dolar AS, sebagai base case, dan itu menciptakan tekanan dari ekspektasi yang dapat memenuhi sendiri (self-fulfilling)," tuturnya.

Meski begitu, peluang stabilisasi rupiah masih terbuka apabila pemerintah dan otoritas keuangan segera mengeluarkan sinyal kebijakan yang kuat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Menurut Yusuf, pasar membutuhkan kepastian terkait disiplin fiskal, kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA), serta koordinasi yang solid antara BI dan Kementerian Keuangan.

“Kalau ada sinyal kebijakan yang kuat dalam waktu dekat, ada peluang rupiah stabil di kisaran Rp17.300-Rp17.500 per dolar AS sebelum tren melemah lebih lanjut,” kata Yusuf.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More