Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Daya Saing RI Susut ke-48, Airlangga: Akan Kami Telusuri Penyebabnya!
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (IDN Times/Triyan).
  • Peringkat daya saing Indonesia turun dari posisi ke-40 pada 2025 menjadi ke-48 pada 2026 menurut laporan IMD World Competitiveness Ranking.

  • Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan menelusuri penyebab penurunan dan membentuk tim debottlenecking untuk mengidentifikasi faktor utama yang mempengaruhi daya saing nasional.

  • Laporan IMD menyoroti tantangan di sektor infrastruktur, efisiensi bisnis, serta ketahanan energi, meski kinerja ekonomi dan kebijakan perpajakan masih menjadi kekuatan utama Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menanggapi penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam laporan IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia turun dari peringkat ke-40 pada 2025 menjadi peringkat ke-48 pada 2026 dari total 70 negara yang disurvei.

Airlangga mengatakan pemerintah akan mempelajari lebih lanjut faktor-faktor yang menyebabkan turunnya posisi daya saing Indonesia tersebut.

"Ya nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim debottlenecking. Jadi kita akan lihat dari sana," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (24/6/2026).

1. Pemerintah akan mengecek berbagai tantangan yang ditulis oleh IMD

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (IDN Times/Triyan).

Menurut Airlangga, pemerintah juga telah memperoleh berbagai masukan dari proses peninjauan bersama sejumlah lembaga internasional, termasuk OECD. Ia menilai berbagai persoalan yang diidentifikasi tidak jauh berbeda dengan temuan dalam survei IMD.

"Tentu kita akan melihat mana yang menjadi prioritas. Kemarin dalam review, termasuk dengan OECD maupun berbagai negara lain, kami mendapatkan beberapa isu yang muncul dan isunya tidak terlalu berbeda," kata Airlangga.

2. Penurunan peringkat sudah terjadi sejak 2025

Ilustrasi daya saing (Dok Pixabay)

Berdasarkan laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia berada di peringkat ke-48, turun delapan peringkat dibandingkan posisi ke-40 pada tahun sebelumnya.

Jika ditelusuri lebih jauh dari dokumen International Institute for Management Development (IMD), tren penurunan sebenarnya telah terjadi sejak 2025. Indonesia sempat mencatat perbaikan signifikan dengan naik dari peringkat ke-44 pada 2022 menjadi peringkat ke-34 pada 2023, lalu mencapai posisi terbaiknya di peringkat ke-27 pada 2024. Namun, tren positif tersebut berbalik pada 2025 ketika Indonesia turun ke peringkat ke-40 dan kembali merosot ke peringkat ke-48 pada 2026.

IMD menilai sejumlah tantangan masih membayangi daya saing Indonesia. Salah satunya adalah gejolak ekonomi global yang berpotensi mengancam ketahanan energi nasional.

3. Sederet tantangan yang dihadapi Indonesis

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

IMD menilai sejumlah tantangan masih membayangi daya saing Indonesia. Salah satunya adalah gejolak ekonomi global yang berpotensi mengancam ketahanan energi nasional.pilar utama penilaian, kinerja ekonomi (economic performance) masih menjadi salah satu kekuatan Indonesia.

Pada pilar ini, indikator harga menempati peringkat ke-10 dunia, ekonomi domestik peringkat ke-24, ketenagakerjaan peringkat ke-28, investasi internasional peringkat ke-37, dan perdagangan internasional peringkat ke-50.

Pada aspek efisiensi pemerintah (government efficiency), kebijakan perpajakan menjadi indikator dengan kinerja terbaik, yakni berada di peringkat ke-12. Sementara itu, keuangan publik berada di posisi ke-25, regulasi bisnis peringkat ke-43, kerangka kelembagaan peringkat ke-50, dan kerangka sosial peringkat ke-54.

Di sisi lain, aspek efisiensi bisnis (business efficiency) masih menghadapi sejumlah tantangan. Pasar tenaga kerja berada di peringkat ke-21, sedangkan sektor keuangan berada di posisi ke-51. Adapun indikator sikap dan nilai masyarakat berada di peringkat ke-53, produktivitas dan efisiensi di peringkat ke-53, serta praktik manajemen di posisi ke-55.

Aspek yang paling membutuhkan perbaikan adalah infrastruktur. IMD mencatat infrastruktur dasar Indonesia berada di peringkat ke-42, infrastruktur teknologi di posisi ke-47, dan infrastruktur ilmiah di peringkat ke-48. Sementara itu, komponen pendidikan hanya menempati posisi ke-63, sedangkan kesehatan dan lingkungan berada di peringkat ke-65.

Editorial Team

Related Article