ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
IMD menilai sejumlah tantangan masih membayangi daya saing Indonesia. Salah satunya adalah gejolak ekonomi global yang berpotensi mengancam ketahanan energi nasional.pilar utama penilaian, kinerja ekonomi (economic performance) masih menjadi salah satu kekuatan Indonesia.
Pada pilar ini, indikator harga menempati peringkat ke-10 dunia, ekonomi domestik peringkat ke-24, ketenagakerjaan peringkat ke-28, investasi internasional peringkat ke-37, dan perdagangan internasional peringkat ke-50.
Pada aspek efisiensi pemerintah (government efficiency), kebijakan perpajakan menjadi indikator dengan kinerja terbaik, yakni berada di peringkat ke-12. Sementara itu, keuangan publik berada di posisi ke-25, regulasi bisnis peringkat ke-43, kerangka kelembagaan peringkat ke-50, dan kerangka sosial peringkat ke-54.
Di sisi lain, aspek efisiensi bisnis (business efficiency) masih menghadapi sejumlah tantangan. Pasar tenaga kerja berada di peringkat ke-21, sedangkan sektor keuangan berada di posisi ke-51. Adapun indikator sikap dan nilai masyarakat berada di peringkat ke-53, produktivitas dan efisiensi di peringkat ke-53, serta praktik manajemen di posisi ke-55.
Aspek yang paling membutuhkan perbaikan adalah infrastruktur. IMD mencatat infrastruktur dasar Indonesia berada di peringkat ke-42, infrastruktur teknologi di posisi ke-47, dan infrastruktur ilmiah di peringkat ke-48. Sementara itu, komponen pendidikan hanya menempati posisi ke-63, sedangkan kesehatan dan lingkungan berada di peringkat ke-65.