Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260108-WA0012.jpg
Realisasi defisit per Desember 2025. (IDN Times/Triyan).

Intinya sih...

  • Defisit APBN 2025 mencapai 2,92% terhadap PDB.

  • Pelebaran defisit untuk menjaga ekonomi tetap berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi.

  • Belanja negara lebih besar dari pendapatan negara, penerimaan pajak hanya 87,6% dari target.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai tersebut setara dengan Rp744 triliun. Defisit pada akhir tahun ini, tercatat melampaui outlook dalam Lapsem APBN yang dipatok sebesar 2,78 persen terhadap PDB atau sekitar Rp662 triliun.

Angka defisit juga melampaui target dalam APBN 2025 sebesar 2,53 persen atau Rp616 triliun. Realisasi defisit ini pun nyaris capai batas maksimal defisit sesuai Undang-Undang sebesar 3 persen terhadap PDB.

1. Defisit melebar diklaim untuk jaga ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat Konferensi Pers APBN KiTa. (IDN Times/Triyan).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pelebaran defisit merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga perekonomian nasional tetap berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi.

“Defisitnya memang naik menjadi 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Pelebaran ini dilakukan sesuai misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2025).

2. Belanja negara lebih besar dari pendapatan negara

Konferensi Pers APBN KiTa edisi November. (IDN Times/Triyan)

Pelebaran defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Hingga akhir 2025, pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun, atau 91,7 persen dari target APBN.

Dari sisi perpajakan, penerimaan pajak terealisasi Rp1.917,6 triliun, setara 87,6 persen dari target. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target. Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun, atau 104,0 persen. Sementara penerimaan hibah tercatat Rp4,3 triliun, melonjak hingga 733,3 persen dari target.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun, atau 95,3 persen dari pagu APBN. Belanja pemerintah pusat tercatat Rp2.602,3 triliun, setara 96,3 persen dari target. Rincian belanja negara tersebut meliputi belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target. Sementara belanja non-K/L terealisasi Rp1.102,0 triliun, setara 71,5 persen, dan transfer ke daerah disalurkan Rp849,0 triliun atau 92,3 persen dari target.

3. Ekonomi masih tertekan, Purbaya beberkan alasan pangkas belanja negara

Konpers APBN KiTa edisi Desember. (IDN Times/Triyan).

Menurutnya opsi pemangkasan belanja untuk menekan defisit bukan menjadi pilihan di tengah kondisi ekonomi yang sedang melambat.

“Pasti muncul pertanyaan kenapa belanja tidak dipotong agar defisit tetap kecil. Namun ketika ekonomi sedang mengalami tekanan, pemerintah justru perlu memberikan stimulus agar perekonomian tidak semakin tertekan,” ujarnya.

Editorial Team