Konferensi Pers APBN KiTa edisi November. (IDN Times/Triyan)
Pelebaran defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Hingga akhir 2025, pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun, atau 91,7 persen dari target APBN.
Dari sisi perpajakan, penerimaan pajak terealisasi Rp1.917,6 triliun, setara 87,6 persen dari target. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target. Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun, atau 104,0 persen. Sementara penerimaan hibah tercatat Rp4,3 triliun, melonjak hingga 733,3 persen dari target.
Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun, atau 95,3 persen dari pagu APBN. Belanja pemerintah pusat tercatat Rp2.602,3 triliun, setara 96,3 persen dari target. Rincian belanja negara tersebut meliputi belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target. Sementara belanja non-K/L terealisasi Rp1.102,0 triliun, setara 71,5 persen, dan transfer ke daerah disalurkan Rp849,0 triliun atau 92,3 persen dari target.