ilustrasi. Para karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Naiknya harga pangan dan energi mengancam ekonomi dunia khususnya Asia yang dilanda pandemi. Negara-negara berkembang yang masih bertumpu terhadap pinjaman utang luar negeri ternyata sangat rentan terhadap dampak dari krisis global.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ada 15 daftar negara yang berpotensi mengalami resesi ekonomi dan Indonesia berada pada urutan ke 14.
Namun, Indonesia kalau dilihat dari kondisi ekonomi saat ini, kemungkinannya sangat kecil untuk terdampak resesi karena Indonesia terus menjaga momentum pemulihan ekonominya pasca Covid-19 dengan berbagai instrumen kebijakan yang relatif aman.
"Perlu untuk kita ketahui inflasi di negara-negara maju dan negara berkembang saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh disrupsi global saja. Sebagian besar disebabkan oleh kebijakan internal negara masing-masing," katanya.
Sedangkan, inflasi global sudah dimulai sejak masa pandemi Covid-19 ketika pemerintah di masing-masing negara mulai menyuntikkan paket stimulus ke dalam ekonominya. Permintaan menjadi naik namun dari sisi supply chain masih terganggu sehingga harga komoditas menjadi tinggi. Kemudian, hal tersebut diperparah dengan adanya perang Rusia-Ukraina karena Rusia adalah salah satu negara eksportir minyak terbesar di dunia dan Ukraina adalah salah satu negara pengekspor gandum dan minyak biji matahari.
"Kasus di Indoensia terbilang berbeda. Walaupun harga minyak dunia meningkat namun pemerintah masih belum menaikkan harga BBM bersubsidi, begitu juga dengan pangan. Walaupun Indonesia merupakan pengimpor gandum namun dampaknya tidak secara langsung terasa pada harga-harga komoditas yang menggunakan bahan baku gandum seperti mie instan dan roti," katanya.
Untuk diketahui, per Juni 2022, Inflasi Indonesia menyentuh angka 4,35 persen dan merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Namun, penyebabnya justru bukan karena faktor global tapi lebih pada ketersediaan pangan dalam negeri terutama cabai, telur dan bawang merah.
"Di sisi lain, Pemerintah dan Bank Indonesia mengantisipasi adanya arus modal keluar dari Indoensia. Ia mengatakan saat ini the Fed sedang menaikkan suku bunga acuannya, dan kebijakan ini akan melemahkan mata uang rupiah saat terjadinya impor. Karena saat ini 60 persen bahan baku industri kita berasal dari impor," ujarnya.