Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Inflasi AS Juni 2022 Meroket ke 9,1 Persen, Rekor Tertinggi Sejak 1981

Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden, bersama Wakil Presiden Amerika Serikat terpilih, Kamala Harris. (Facebook.com/joebiden)
Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden, bersama Wakil Presiden Amerika Serikat terpilih, Kamala Harris. (Facebook.com/joebiden)

Jakarta, IDN Times – Departemen Tenaga Kerja AS mencatat tingkat inflasi AS pada bulan Juni melonjak drastis hingga menyentuh angka 9,1 persen. Angka tersebut meroket di atas perkiraan Dow Jones yang hanya mencapai 8,8 persen. Inflasi AS sebesar 9,1 persen menjadi angka terbesar sejak Desember 1981 lalu.

Berdasarkan catatan Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (13/7/2022), indeks harga konsumen AS atau The Consumer Price Index (CPI) naik 1,3 persen dari periode sebelumnya secara year on year (YoY).

1. Indek Harga Konsumen AS melonjak signfikan lampaui prediksi

potret Kota New York(freepik.com/wirestock)
potret Kota New York(freepik.com/wirestock)

Lebih lanjut, CPI inti sendiri tercatat meningkat hingga 5,9 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yakni hanya sebesar 5,7 persen. Inflasi inti memuncak sebesar 6,5 persen pada bulan Maret dan telah turun sejak saat itu. Pada basis bulanan, CPI utama naik 1,3 persen dan CPI inti naik 0,7 persen.

Angka tersebut cukup jauh jika dibandingkan dengan perkiraan masing-masing CPI yang hanya berada di kisaran angka 1,1 persen dan 0,5 persen. Sebagai informasi, headline CPI atau CPI utama mencakup semua barang dan jasa. Sementara, core CPI atau CPI inti mencakup semua hal kecuali bahan bakar dan makanan.

"CPI memberikan kejutan lain. Sama menyakitkannya dengan angka (inflasi) Juni yang lebih tinggi. Sama buruknya dengan sumber inflasi yang meluas. Meskipun lonjakan CPI dipimpin oleh harga energi dan pangan, yang sebagian besar merupakan masalah global, harga-harga lain juga terus meningkat khususnya untuk barang dan jasa domestik, dari tempat tinggal hingga mobil sampai pakaian jadi.” kata Ekonom Korporat di Navy Federal Credit Union, AS, Robert Frick, seperti dikutip dari CNBC pada Kamis (13/7/2022).

2. The Fed diperkirakan ambil upaya agresif tangani laju inflasi AS yang signifikan

jerome Powell (Website/https://www.npr.org/)
jerome Powell (Website/https://www.npr.org/)

Inflasi yang ternyata di luar perkiraan sejumlah ekonom maupun pakar keuangan akhirnya menjadi sinyal kuat bagi The Fed yang diperkirakan akan mengambil langkah yang agresif demi menekan laju inflasi.

Sejumlah investor saham kini menaikkan taruhan mereka pada laju kenaikan suku bunga ke depan oleh The Fed yang rencananya bakal menggelar pertemuan membahas soal suku bunga pada 26-27 Juli medatang.

"Inflasi AS di atas 9 persen. Ditambah meluasnya tekanan sejumlah harga yang benar-benar mengkhawatirkan bagi Federal Reserve.” kata James Knightley, Kepala Ekonom Internasional ING.

3. Mata tertuju pada keputusan suku bunga The Fed pada akhir Juli

Gedung Federal Reserve System (The Fed) Amerika Serikat (federalreserve.gov)
Gedung Federal Reserve System (The Fed) Amerika Serikat (federalreserve.gov)

Dengan kondisi pasokan yang menunjukkan sedikit tanda perbaikan, tanggung jawab ada pada The Fed untuk mengerem melalui suku bunga yang lebih tinggi demi menekan permintaan agar lebih sesuai dengan kondisi pasokan.

“Ancaman resesi pun akan meningkat,” kata Knightley.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafit Yudi Suprobo
EditorHafit Yudi Suprobo
Follow Us