Penurunan tajam pada pasar Amerika Serikat dipicu oleh penerapan tarif tinggi dan ketidakpastian politik yang membuat volume pengiriman jatuh di bawah 30 juta peti. Nilai transaksi anjlok sebesar 21 persen menjadi 3 miliar euro (Rp59,8 triliun) akibat ancaman kenaikan tarif hingga 200 persen dari kepemimpinan Donald Trump. Situasi ini diperparah oleh penguatan euro yang membuat harga produk Prancis kurang kompetitif, serta perilaku konsumen yang menahan diri setelah melakukan penimbunan stok pada akhir 2024.
Ketua FEVS, Gabriel Picard memperingatkan adanya risiko koreksi pasar yang berkepanjangan bagi para eksportir.
“Terdapat penurunan nyata di Amerika Serikat dan koreksi volume mungkin belum cukup. Mungkin kita akan melihat koreksi volume lainnya pada tahun 2026,” kata Picard, dilansir Business Times.
Sementara itu, pasar China juga memberikan tekanan berat dengan penurunan nilai ekspor sebesar 20 persen menjadi 767 juta euro (Rp15,3 triliun). Hal ini terjadi setelah Beijing menerapkan bea masuk anti-dumping sebagai balasan atas sengketa dagang dengan Uni Eropa.
Kebijakan tersebut menyasar produk unggulan seperti cognac dan armagnac, yang menyebabkan penghentian momentum pertumbuhan sektor minuman mewah Prancis di wilayah tersebut. Picard menegaskan konflik politik ini telah mengubah peta perdagangan secara permanen.
“Ketegangan geopolitik antara Prancis dan China menandai berakhirnya cognac di Tiongkok. Sekarang, menghentikan sesuatu tidak memakan waktu lama, tetapi membangunnya kembali membutuhkan waktu yang sangat lama," katanya, dilansir The Independent.