Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Elon musk
Elon Musk (commons.m.wikimedia.org/Trevor Cokley)

Intinya sih...

  • Musk menyumbangkan 60% dana awal OpenAI pada tahun 2015.

  • Musk menuduh OpenAI beralih menjadi bisnis for profit yang menguntungkan Microsoft.

  • Elon Musk tuntut ganti rugi hingga Rp2,2 kuadriliun dan kemungkinan sanksi tambahan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Elon Musk menggugat OpenAI dan Microsoft senilai 134 miliar dolar AS (Rp2,2 kuadriliun) karena dianggap meraup keuntungan tidak sah dari dukungan awalnya terhadap startup AI tersebut. Dokumen pengadilan diajukan pada Jumat (16/1/2026).

Musk menilai kontribusinya sejak tahun 2015, baik dalam bentuk finansial maupun strategis, memberikan hak baginya atas sebagian keuntungan yang telah diperoleh kedua perusahaan tersebut.

1. Elon Musk tuntut bagi hasil keuntungan

Elon Musk dalam Conservative Political Action Conference (CPAC) di Maryland, Amerika Serikat (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Elon Musk sebagai salah satu pendiri OpenAI menyumbangkan sekitar 38 juta dolar AS (Rp642,5 miliar) atau 60 persen dari dana awal perusahaan pada tahun 2015. Selain finansial, Musk juga merekrut staf kunci, menghubungkan pendiri dengan kontak penting, serta memberikan kredibilitas yang krusial bagi proyek startup kecerdasan buatan tersebut.

Menurut ahli ekonomi keuangan C. Paul Wazzan, kontribusi Musk ini telah menghasilkan keuntungan bagi OpenAI senilai 65,5 miliar dolar AS (Rp1,1 kuadriliun) hingga 109,4 miliar dolar AS (Rp1,8 kuadriliun). Sementara itu, Microsoft sebagai mitra komersial OpenAI memperoleh manfaat finansial sebesar 13,3 miliar dolar AS (Rp224,8 triliun) hingga 25,1 miliar dolar AS (Rp424,4 triliun) dari kerja sama dengan perusahaan tersebut.

“Seperti halnya investor awal di perusahaan startup yang bisa meraup keuntungan berkali-kali lipat dari investasi awalnya, keuntungan tidak sah yang diperoleh OpenAI dan Microsoft jauh lebih besar daripada kontribusi awal Musk,” tulis pengacara Musk, Steven Molo, dalam dokumen pengadilan, dikutip NDTV.

2. Elon Musk tuduh OpenAI langgar misi non profit

Elon Musk (commons.wikimedia.org/Daniel Oberhaus)

Elon Musk menuduh OpenAI telah menyimpang dari misi asli non profit yang berfokus pada kemanusiaan, menjadi model bisnis for profit yang menguntungkan Microsoft sebagai mitra utamanya. Musk meninggalkan OpenAI pada tahun 2018 dan kini memimpin xAI sebagai perusahaan pesaing di bidang kecerdasan buatan.

OpenAI menolak seluruh tuntutan Musk sebagai tindakan tidak berdasar dan bagian dari kampanye intimindasi yang dilakukan olehnya. Microsoft juga menyatakan tidak ada bukti bahwa mereka mendukung atau memfasilitasi pelanggaran yang dituduhkan terhadap OpenAI.

Sidang juri dijadwalkan dimulai pada April 2026 di Oakland, California, setelah hakim menolak upaya OpenAI dan Microsoft untuk menghindari persidangan.

3. Elon Musk tuntut ganti rugi hingga Rp2,2 kuadriliun dan kemungkinan sanksi tambahan

ilustrasi Elon Musk (commons.wikimedia.org/JD Lasica from Pleasanton, CA, US)

Tuntutan hukum Elon Musk terhadap OpenAI dan Microsoft mencakup ganti rugi senilai 79 miliar dolar AS (Rp1,3 kuadriliun) hingga 134 miliar dolar AS (Rp2,2 kuadriliun), ditambah kemungkinan punitive damages serta perintah pengadilan jika juri memutuskan kedua perusahaan bersalah. Dokumen pengadilan belum merinci bentuk perintah pengadilan potensial yang dimaksud.

OpenAI dan Microsoft mengajukan dokumen terpisah untuk menolak klaim yang diajukan Musk serta meminta pembatasan penggunaan bukti dari ahli ekonominya. Perselisihan hukum ini berpotensi memengaruhi dinamika persaingan di industri kecerdasan buatan secara keseluruhan.

Musk berargumen bahwa keuntungan yang diperoleh kedua perusahaan tersebut setara dengan return investor awal yang jauh melebihi investasi semula, sehingga harus dikembalikan kepadanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team