Enam oksida unsur tanah jarang, yaitu praseodimium, serium, lantanum, neodimium, samarium, dan gadolinium. (Peggy Greb, US department of agriculture, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Dilansir dari The New York Times, Proyek Vault dirancang sebagai fasilitas penyimpanan lebih dari 50 komoditas yang telah dikategorikan sebagai mineral kritis oleh Badan Survei Geologi AS (USGS). Daftar itu meliputi tanah jarang, litium, uranium, tembaga, kobalt, serta berbagai material lain yang dinilai vital bagi keamanan nasional, ekonomi, dan stabilitas rantai pasok.
Pendanaan program berasal dari pinjaman 10 miliar dolar AS (setara Rp168 triliun) yang disediakan oleh Bank Ekspor-Impor AS (EXIM Bank), ditambah investasi swasta sekitar 1,67-2 miliar dolar AS (setara Rp27,7 triliun hingga Rp33,2 triliun) sehingga totalnya mencapai 12 miliar dolar AS. Pasokan mineral akan dihimpun dari sumber domestik maupun luar negeri sebelum ditempatkan di fasilitas penyimpanan yang berlokasi di wilayah AS.
Lebih dari 12 korporasi besar telah menyatakan partisipasi, termasuk General Motors, Stellantis, Boeing, GE Vernova, Google, serta Western Digital. Selain itu, tiga perusahaan perdagangan komoditas telah meneken kesepakatan untuk menangani proses pengadaan bahan baku.
Menurut Ketua EXIM Bank John Jovanovic, skema ini merupakan bentuk kemitraan publik-swasta yang sangat cocok dan menunjukkan langkah terbaik AS. Program tersebut disusun agar perusahaan peserta memiliki cadangan mineral yang cukup untuk 60 hari jika terjadi kondisi darurat.