Jakarta, IDN Times - Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu menyatakan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia dipicu oleh masalah struktural ekonomi nasional, bukan sekadar imbas kelesuan ekonomi global.
Salah satu pemicu utamanya adalah fenomena crowding out, di mana penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam skala besar menyedot likuiditas pasar keuangan. Hal itu membuat perbankan lebih memilih berinvestasi pada instrumen pemerintah ketimbang menyalurkan kredit produktif ke sektor usaha.
Ketua Harian FSP BUMN Bersatu Djusman H. Umar mengatakan hal itu berimbas pada pembiayaan untuk sektor industri, manufaktur, dan UMKM mengetat, yang memaksa perusahaan menekan biaya operasional hingga memangkas jumlah karyawan.
"PHK bukanlah penyebab krisis, melainkan akibat dari melemahnya investasi produktif dan terbatasnya pembiayaan bagi sektor riil. Karena itu, persoalan ini harus dibaca dalam konteks kebijakan ekonomi secara keseluruhan," kata Djusman dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
