Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Avtur Global Naik 2 Kali Lipat Sejak 2025, Ini Respons AirAsia X
Pesawat AirAsia (unsplash.com/dsyphers)
  • AirAsia X menyesuaikan tarif dan menerapkan fuel surcharge akibat harga avtur global yang melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 2025, demi menjaga keberlanjutan operasional maskapai.
  • Tan Sri Jamaludin resmi diangkat sebagai Komisaris Utama Non-Eksekutif untuk memperkuat pengawasan strategis dan mendukung fokus grup pada efisiensi biaya serta pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian industri aviasi.
  • AirAsia X menetapkan Bahrain sebagai hub strategis baru yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa mulai Juni 2026, sambil mengalihkan kapasitas ke rute dengan performa lebih kuat seperti Almaty dan Istanbul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - AirAsia X, anak perusahaan dari grup AirAsia mengaku telah mengambil tindakan atas kenaikan harga avtur global yang terus mengalami kenaikan sejak 2025 silam. Hal itu disampaikan oleh Group CEO AirAsia X, Bo Lingam dalam media briefing yang digelar secara hybrid, Senin (6/4/2026).

"Di tengah tekanan geopolitik dan gangguan rantai pasok, harga avtur global telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025. Untuk menjaga keberlanjutan operasional, kami melakukan penyesuaian tarif secara terukur, termasuk penerapan fuel surcharge satu kali di seluruh jaringan," kata Bo.

1. Pengalihan kapasitas ke rute yang lebih kuat

Potret pesawat AirAsia Indonesia (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Selain itu, Bo juga menyampaikan, pihaknya juga terus mengoptimalkan jaringan dengan mengalihkan kapasitas ke rute yang lebih kuat, serta memaksimalkan konektivitas Fly-Thru melalui Kuala Lumpur dan Bangkok untuk menangkap permintaan secara lebih efisien.

"Di sisi lain, kami aktif bernegosiasi dengan mitra strategis untuk mengendalikan biaya. Seiring dengan reaktivasi armada secara bertahap, unit cost akan semakin membaik, ditambah dengan penguatan mata uang ASEAN natural hedge terhadap biaya berbasis USD," tutur Bo.

2. Pengangkatan Tan Sri Jamaludin sebagai Komisaris Utama Non-Eksekutif

Potret maskapai AirAsia. (pexels.com/Jeffry S.S.)

AirAsia X juga secara resmi menyambut Tan Sri Jamaludin sebagai Komisaris Utama Non-Eksekutif, seiring dengan langkah strategis Grup dalam menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan meningkatnya ketidakpastian di industri aviasi global.

Di bawah kepemimpinannya, Dewan Komisaris menghadirkan pengawasan independen dan perspektif jangka panjang yang krusial, seiring Grup memasuki fase baru dengan fokus pada penguatan fundamental dan pertumbuhan berkelanjutan.

Di tengah lingkungan operasional yang semakin kompleks, Grup tetap yakin pada ketahanan model bisnisnya, kekuatan jaringan ASEAN, serta prospek pertumbuhan jangka panjang kawasan.

Permintaan perjalanan tetap solid, sekaligus memperkuat komitmen Grup dalam menjadikan Kuala Lumpur sebagai hub utama untuk konektivitas regional yang seamless dan terjangkau.

"Bergabung dengan AirAsia X di fase ini menjadi momentum yang sangat menarik, khususnya setelah konsolidasi tujuh entitas maskapai short haul dan medium haul menjadi satu grup yang lebih solid dan terintegrasi," kata Tan Sri Jamaludin.

"Di tengah ketidakpastian global, kami memasuki fase ini dari posisi yang kuat. Fundamental Grup tetap solid, didukung oleh struktur biaya yang efisien dan disiplin, jaringan berbasis ASEAN yang resilien, serta konektivitas Fly-Thru yang memungkinkan respons cepat terhadap dinamika pasar," sambung dia.

3. Bahrain hub strategis

AirAsia (unsplash.com/David Syphers)

AirAsia X juga menegaskan komitmennya untuk mengembangkan Bahrain sebagai hub strategis yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Rute ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 26 Juni 2026, dengan harapan kondisi kawasan akan semakin kondusif.

Sementara itu, Grup secara proaktif mengalihkan kapasitas ke rute dengan performa dan yield yang lebih kuat seperti Almaty, Tashkent, dan Istanbul, guna menangkap permintaan yang terdistrupsi. Di saat yang sama, pengembangan hub domestik di Senai, Johor Bahru juga terus dieksplorasi sebagai bagian dari strategi jangka menengah.

"Ke depan, kami akan memastikan kelincahan operasional dan tata kelola yang kuat, sekaligus melanjutkan pondasi bisnis yang telah terbangun," tutur Tan Sri Jamaludin.

Dia mengatakan tantangan saat ini tidak hanya dihadapi maskapai, melainkan seluruh ekosistem aviasi. Dengan demikian, kolaborasi dengan mitra menjadi kunci untuk memperkuat daya saing industri.

" Kami juga terus membuka peluang ekspansi, termasuk penambahan pesanan pesawat dan opsi sewa tambahan untuk mendukung rencana pertumbuhan dan perluasan jaringan ke lebih banyak destinasi," ujarnya.

Editorial Team