Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Pertamax Naik, Purbaya Yakin Konsumen yang Pindah ke Pertalite Tak Banyak
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Gedung DPR. (IDN Times/Triyan).
  • Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi ajakan warganet untuk beralih dari Pertamax ke Pertalite setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, namun ia menilai perpindahan besar-besaran tidak akan terjadi.
  • Kementerian Keuangan belum melakukan perhitungan resmi terkait potensi perpindahan konsumsi BBM dari Pertamax ke Pertalite serta dampaknya terhadap beban subsidi energi dalam APBN.
  • Purbaya menyebut kenaikan harga Pertamax berdampak minim pada inflasi karena jenis BBM ini jarang digunakan oleh angkutan umum dan kendaraan logistik yang memengaruhi distribusi barang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga bensin Pertamax naik jadi mahal. Banyak orang di internet bilang pindah ke Pertalite yang lebih murah. Pak Purbaya, orang penting di keuangan, bilang mungkin ada yang pindah tapi tidak banyak, karena mobil mereka butuh Pertamax. Sekarang belum dihitung berapa yang pindah, dan katanya harga naik ini tidak bikin barang-barang jadi ikut mahal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons maraknya ajakan di media sosial yang mendorong masyarakat beralih dari Pertamax ke Pertalite, setelah harga BBM nonsubsidi tersebut naik menjadi Rp16.250 per liter.

Purbaya mengakui, dengan kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong sebagian konsumen untuk beralih ke BBM bersubsidi. Namun, ia meyakini perpindahan tersebut tidak akan besar karena karakteristik pengguna Pertamax berbeda dengan pengguna Pertalite.

"Kita enggak hitung, tapi begini. Pasti ada berapa persen yang pindah," kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

1. Tak semua pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite

Suasana SPBU di Waingapu usai sidak Pertamina bersama Pemda dan Polres Sumba Timur. (Dok. Pertamina)

Menurut Purbaya, mayoritas pengguna Pertamax memilih jenis BBM tersebut karena menyesuaikan dengan kebutuhan dan spesifikasi mesin kendaraan mereka. Karena itu, keputusan untuk beralih ke Pertalite tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor harga.

Ia menambahkan, penggunaan BBM yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan kendaraan penting untuk menjaga performa mesin serta efisiensi konsumsi bahan bakar dalam jangka panjang.

"Cuma kan harusnya enggak semuanya pindah, kenapa? Karena yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," ujarnya.

2. Belum ada perhitungan terkait potensi perpindahan konsumsi BBM dari Pertamax ke Pertalite

Petugas SPBU melayani pengisian Pertamax. (dok. Pertamina)

Meski demikian, Purbaya mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan hingga saat ini belum melakukan perhitungan terkait potensi perpindahan konsumsi BBM dari Pertamax ke Pertalite, maupun dampaknya terhadap beban subsidi energi dalam APBN.

Saat ditanya mengenai proyeksi persentase pengguna Pertamax yang berpotensi beralih ke Pertalite, Purbaya mengaku belum memiliki data atau estimasi yang dapat disampaikan kepada publik.

"Kita belum hitung. Mungkin ditanya Pak Bahlil yang mengerti itu," kata Purbaya.

3. Dampak kenaikan harga BBM ke inflasi minim

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Sebelumnya, Purbaya menilai, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax tidak akan memberikan tekanan yang signifikan terhadap inflasi.

Menurut Purbaya, dampak langsung kenaikan harga Pertamax relatif terbatas, karena BBM dengan Research Octane Number (RON) 92 tersebut umumnya tidak digunakan oleh angkutan umum maupun kendaraan logistik yang menjadi tulang punggung distribusi barang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan, 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), dan 1,35 persen secara tahun kalender (year to date/ytd).

"Harusnya relatif minimum karena Pertamax biasanya tidak dipakai untuk angkutan barang," ujar Purbaya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, mayoritas kendaraan angkutan umum dan distribusi barang masih menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite maupun Biosolar yang hingga kini harganya belum mengalami perubahan.

Sebagai ilustrasi, jika seorang pengguna mobil mengonsumsi sekitar 150 liter BBM per bulan, selisih harga Rp2.000 per liter saja dapat menghasilkan penghematan sekitar Rp300.000 per bulan apabila beralih ke BBM yang lebih murah. Faktor ekonomis seperti ini berpotensi memengaruhi keputusan sebagian konsumen, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Apabila perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite terjadi dalam jumlah besar, konsumsi Pertalite nasional berpotensi meningkat di atas perkiraan pemerintah. Dampaknya, tekanan terhadap kuota BBM bersubsidi juga dapat bertambah sehingga pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap penyaluran dan pengelolaan subsidi energi.

Editorial Team

Related Article