Comscore Tracker

Nasib Miris Pemandu Tur di Tengah Pandemik Virus Corona

Kehilangan pendapatan sampai harus berutang demi bisa hidup

Jakarta, IDN Times - Bobby (41) kini hanya bisa berdiam di rumah sejak adanya wabah virus corona dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia, khususnya tempat ia tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sesekali pemandu wisata ini berjalan ke pantai untuk mencari ikan bersama nelayan demi memenuhi kebutuhan pangan.

"Saya di rumah aja. Gak ke mana-mana. Kita mau ke luar juga gak ada kerjaan," kisahnya kepada IDN Times, Selasa (12/5).

1. Terpaksa mengutang demi bertahan hidup

Nasib Miris Pemandu Tur di Tengah Pandemik Virus Corona(Ilustrasi pariwisata, senja di Bukit Merese, Lombok) IDN Times / Shemi

Baca Juga: Kontras Impian dan Kenyataan Pariwisata Indonesia di 2020

Bobby terpaksa mengutang ke keluarganya sejak tabungannya habis. Ia juga sangat mengandalkan bantuan dari Desa Sade untuk membeli beras 25 kilogram.

"Saya pinjam ke kakak. Dikasih insentif dari Desa Sade untuk dibelikan beras. Karena kan Desa Sade objek wisata," ujarnya.

Bantuan tersebut ia gunakan untuk menghidupi empat orang anak dan satu istrinya. "Anak saya paling besar 20 tahun, baru tamat SMA. Yang paling kecil empat tahun," kata Bobby.

2. Kehilangan pendapatan sejak dua bulan lalu

Nasib Miris Pemandu Tur di Tengah Pandemik Virus CoronaPemandu wisata / Tour guide di Lombok bernama Bobby | (IDN Times / Shemi)

Bobby sudah kehilangan pendapatan sejak 15 Maret, hari terakhir dia menjadi pemandu wisata Lombok sebelum diberlakukan PSBB. Saat itu ia memandu 100 orang asal Jakarta. "Lombok sepi mulai tanggal 20 Maret karena ada lockdown sampai sekarang," katanya.

Padahal, saat masih aktif menjadi pemandu wisata, dalam sebulan Bobby bisa mengantongi hingga Rp10 juta. Dengan rincian ia dapat memandu empat grup turis dalam sebulan yang masing-masing menghabiskan waktu tiga hari tiga malam.

"Karena biasa bawa grup tiga hari tiga malam. Sehari dapat guide fee Rp250 ribu. Kalau paket tiga hari tiga malam dapat Rp2,5 juta," katanya.

3. Matinya pariwisata Lombok

Nasib Miris Pemandu Tur di Tengah Pandemik Virus CoronaIlustrasi pariwisata di Gili Trawangan, Lombok. IDN Times / Shemi

Bobby menceritakan saat ini wisata Lombok dalam kesulitan karena COVID-19. Sejak 20 Maret, sejumlah titik pariwisata di Lombok seperti Gili Nanggu dan Gili Trawangan mulai sepi, begitu juga hotel dan homestay di pantai Kuta.

"Turis asing memang masih ada, tapi mereka yang terjebak, masih banyak yang terjebak tak bisa ke mana-mana," katanya.

Bahkan beberapa turis asing yang terjebak itu 'terpaksa' berbaur dengan warga Lombok dengan hidup sederhana untuk menghemat uang mereka. "Bule banyak yang makan di kaki lima, beli takjil biar hemat. Karena mereka harus makan tapi yang sederhana," kata Bobby.

 

Baca Juga: Pariwisata Terpuruk, Sebagian Warga di Nusa Penida Kembali Bertani

Topic:

  • Umi Kalsum
  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya