Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Impor Perhiasan RI Meledak saat Harga Emas Dunia Anjlok, Ini Datanya
Ilustrasi emas logam mulia (LM) PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Impor logam mulia dan perhiasan dari Australia melonjak 469,05 persen yoy pada Januari–Maret 2026, mencapai nilai 1,19 miliar dolar AS meski harga emas dunia sedang melemah.
  • Total impor Indonesia selama Januari–Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS, naik 10,05 persen dibanding tahun lalu, dengan impor nonmigas tumbuh signifikan hingga 12,16 persen.
  • Impor bahan baku penolong menembus 43,17 miliar dolar AS atau naik 6,89 persen yoy, menjadi pendorong utama pertumbuhan impor untuk mendukung kebutuhan industri dalam negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan signifikan pada impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia. Lonjakan ini terjadi meski harga emas dunia tengah melemah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia mencapai 1,19 miliar dolar AS sepanjang Januari–Maret 2026. Komoditas ini memberikan share 37,92 persen dari total impor non-migas dari Australia dan mengalami kenaikan tinggi hingga 469,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

“Impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia tumbuh sangat tinggi, yaitu mencapai 469,05 persen secara year on year,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).

1. Komponen komoditas lain yang diimpor Indonesia

Ilustrasi emas logam mulia (LM) PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Ia menjelaskan logam mulia dan perhiasan/permata menjadi komoditas impor nonmigas terbesar dari Australia, yang total nilainya mencapai 3,14 miliar dolar AS pada Januari–Maret 2026.

Komoditas lain antara lain serealia dengan nilai 394,55 juta dolar AS atau naik 38,36 persen, serta bahan bakar mineral senilai 301,22 juta dolar AS, turun 21,52 persen.

“Impor nonmigas dari Australia tercatat 3,14 miliar dolar AS, didominasi oleh logam mulia dan perhiasan/permata dengan share 37,92 persen,” tambah Ateng.

2. Nilai impor Indonesia 61.30 miliar dolar AS

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Selain Australia, Indonesia juga tercatat mengimpor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura. Sepanjang Januari–Februari 2026, nilai impor mencapai 0,32 miliar dolar AS, naik 196,50 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, nilai impor Indonesia mencapai 61,30 miliar dolar AS, naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Meskipun total impor tumbuh, impor migas tercatat menurun menjadi 8,33 miliar dolar AS, turun 1,72 persen, sementara impor non-migas mengalami kenaikan signifikan 12,16 persen menjadi 52,97 miliar dolar AS.

"Jika dilihat menurut penggunaan, peningkatan nilai impor terjadi di seluruh golongan," tegasnya.

3. Impor bahan baku penolong tembus 43,17 miliar dolar AS

Ilustrasi eskpor impor/pixabay.com/distel2610

Impor bahan baku penolong menjadi penyumbang utama pertumbuhan, dengan nilai 43,17 miliar dolar AS, naik 6,89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, memberikan andil 5 persen terhadap total impor.

Beberapa komoditas bahan baku penolong yang mengalami kenaikan cukup besar antara lain mesin, perlengkapan elektrik, dan bagiannya (HS85), logam mulia dan perhiasan/permata (HS71), serta berbagai produk kimia (HS38).

Pertumbuhan impor non-migas ini menunjukkan bahwa kebutuhan industri domestik terus meningkat, terutama untuk mendukung sektor manufaktur dan pengolahan.

Editorial Team