ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha, khususnya dalam tekanan biaya produksi dan cash flow atau arus kas keuangan perusahaan.
“Ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya tidak hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan terhadap cash flow perusahaan,” ujar Anggawira kepada IDN Times, Kamis (14/3).
Menurutnya, beberapa faktor utama yang menjadi penyebab tekanan bagi dunia usaha, antara lain meningkatnya biaya impor, tingginya biaya logistik global, naiknya bunga pinjaman, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sebagai ilustrasi, perusahaan manufaktur A di Jawa Timur harus membeli bahan baku impor dengan harga yang naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu. Biaya logistik global untuk pengiriman barang juga meningkat hingga 10 persen, menambah beban operasional perusahaan.
Di sisi lain, bunga pinjaman bank untuk modal kerja naik dari 6 persen menjadi 7,5 persen, sehingga perusahaan harus mengalokasikan lebih banyak dana hanya untuk membayar bunga. Ditambah lagi, daya beli masyarakat yang belum pulih membuat perusahaan kesulitan menaikkan harga jual produknya.
“Akibatnya, margin industri tertekan dari dua sisi: biaya produksi naik, tetapi kemampuan menaikkan harga jual tetap terbatas,” tuturnya.