Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tembus Rp17.600 saat Libur, Ini Biang Keroknya

Rupiah Tembus Rp17.600 saat Libur, Ini Biang Keroknya
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah sempat melemah hingga Rp17.600 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
  • Libur panjang membuat intervensi Bank Indonesia terbatas di pasar internasional, sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah sulit diredam secara optimal.
  • Pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena fondasi ekonomi nasional masih kuat dengan pertumbuhan di atas 5 persen dan langkah stabilisasi terus dijalankan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami gejolak yang cukup signifikan. Pada perdagangan pagi ini, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level di atas Rp17.600.

Namun, berdasarkan data Bloomberg per pukul 11.35 WIB, mata uang Garuda kini berada di posisi Rp17.585, atau mengalami pelemahan sebesar 56 poin (0,32 persen).

"Ya kita lihat bahwa tadi pagi di 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah 17.600," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi kepada media, Jumat (15/5/2026).

1. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz jadi biang kerok

Rupiah Tembus Rp17.600 saat Libur, Ini Biang Keroknya
kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dia menjelaskan, pelemahan ini bertepatan dengan masa libur Paskah di Indonesia. Selama periode tersebut, tensi geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam, khususnya di wilayah Selat Hormuz yang melibatkan AS dan Iran.

Kondisi memanas setelah Iran menggelar latihan militer besar-besaran di kawasan tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran di sejumlah negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Oman, hingga Arab Saudi.

Selain itu, muncul informasi intelijen mengenai adanya indikasi kerja sama antara Israel dengan beberapa negara di Timur Tengah, meskipun kabar kunjungan Perdana Menteri Israel ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dibantah oleh pihak terkait.

Situasi makin keruh dengan insiden tenggelamnya kapal kargo rute Afrika menuju Uni Emirat Arab di perairan lepas pantai Oman. Adanya penahanan kapal-kapal oleh pihak Iran di Selat Hormuz turut menambah ketidakpastian global.

"Ya, kita melihat pada saat libur dua hari ini ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas, terutama adalah di Selat Hormuz antara Amerika dengan Iran," ujar Ibrahim.

2. Pasar dalam negeri libur bikin intervensi terbatas

Rupiah Tembus Rp17.600 saat Libur, Ini Biang Keroknya
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Dari sisi domestik, pelemahan yang tajam terjadi saat pasar keuangan di Indonesia sedang tutup karena libur dua hari. Menurut Ibrahim, dalam kondisi tersebut Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan langkah intervensi melalui pasar internasional.

Namun, intervensi tersebut dirasa kurang signifikan untuk meredam tekanan. Pasalnya, absennya perdagangan di pasar domestik menyebabkan volume transaksi valuta asing di pasar luar negeri menjadi sangat tinggi pengaruhnya terhadap fluktuasi rupiah.

"Nah dari segi internal sendiri, pada saat memasuki musim libur ya dua hari ini, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional. Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan," kata dia.

3. Pemerintah minta masyarakat tetap tenang

Rupiah Tembus Rp17.600 saat Libur, Ini Biang Keroknya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Triyan).

Merespons kondisi rupiah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak merasa panik. Ia menegaskan, situasi ekonomi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis hebat yang terjadi pada 1998.

Purbaya menjamin fondasi ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang kokoh. Hal itu didukung oleh angka pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten terjaga di atas 5 persen. Bahkan, pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 5,61 persen.

Pemerintah bersama BI memastikan terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar. Langkah strategis telah disiapkan untuk menjaga stabilitas mata uang dan terus memperbaiki sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dalam negeri agar tetap tangguh menghadapi tekanan eksternal.

"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," ujar Purbaya di Gedung Kejagung, Jakarta, Rabu (13/5).

Share
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More