- Berbasis komoditas ekspor
- Energi
- Hilirisasi
- Digital tertentu
- Industri dengan natural hedge dolar
Rupiah Loyo, Industri Impor dan Konsumsi Domestik Mulai Tahan Diri

- Pelemahan rupiah membuat sektor berbasis impor dan konsumsi domestik menahan ekspansi karena biaya produksi naik dan daya beli masyarakat melemah.
- Pelaku usaha kini fokus memperkuat cadangan kas, efisiensi energi, renegosiasi kontrak, serta memanfaatkan sumber lokal dan diversifikasi pasar ekspor.
- Pemerintah didorong percepat reformasi industri melalui industrialisasi, substitusi impor, hilirisasi, dan penguatan rantai pasok agar ekonomi lebih tahan terhadap gejolak global.
Jakarta, IDN Times – Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menjelaskan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi beberapa waktu terakhir berdampak negatif pada sektor yang mengandalkan bahan baku impor. Selain itu, permintaan tidak meningkat karena daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan arus kas perusahaan menjadi lebih terbatas.
"Sedangkan sektor yang berbasis impor dan bergantung pada konsumsi domestik kelas menengah mulai lebih defensif," kata Angga kepada IDN Times, Kamis (14/5/2026).
1. Daftar sektor yang masih bisa ekspansif di tengah pelemahan rupiah

Sektor yang masih ekspansif biasanya meliputi:
2. Pelaku usaha fokus penguatan cadangan kas

Angga menyebut dalam hitung-hitungan industri, tekanan kurs terasa nyata. Dalam berbagai simulasi manufaktur, pelemahan Rp100–Rp200 terhadap dolar bisa langsung mendorong kenaikan biaya produksi, terutama bagi perusahaan dengan proporsi bahan baku impor tinggi. Sedangkan, untuk perusahaan yang memiliki utang dolar tanpa hedging menjadi paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
"Antisipasi kondisi ini, pelaku usaha kini fokus pada penguatan cadangan kas, efisiensi energi, renegosiasi kontrak, pemanfaatan local sourcing, serta diversifikasi pasar ekspor," ujar Angga.
3. Perlu segera percepat reformasi industri

Meski demikian, kondisi pelemahan rupiah bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi industri. Indonesia tidak bisa terus mengandalkan ekonomi yang berbasis konsumsi dan impor bahan baku. Pelemahan rupiah seharusnya mendorong langkah-langkah seperti industrialisasi, substitusi impor, hilirisasi, penguatan rantai pasok domestik, dan pendalaman pasar keuangan nasional.
Tanpa strategi yang tepat, setiap gejolak global akan kembali membuat rupiah dan industri domestik menjadi pihak yang paling rentan. Saat ini, tantangan utama bukan hanya menghadapi pelemahan nilai tukar, tetapi memanfaatkan krisis sebagai titik percepatan transformasi ekonomi nasional.



















