Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IPOT Catat AUM Rp312 Triliun, Didorong Investor Muda
Ilustrasi aplikasi IPOT. (Dok/Istimewa).
  • IPOT mencatat dana kelolaan Rp312 triliun, didorong meningkatnya partisipasi investor muda dan penguatan peran sebagai platform investasi berbasis AI di Indonesia.
  • Tingkat literasi keuangan generasi muda masih tertinggal dibanding inklusi keuangan, memicu perilaku investasi FOMO dan rendahnya aktivitas transaksi bulanan.
  • IPOT menggandeng komunitas eSports serta mengintegrasikan teknologi AI Robo Trading untuk memperkuat edukasi finansial dan membentuk investor muda yang disiplin serta mandiri secara finansial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mencatat, dana kelolaan (assets under management/AUM) mencapai sekitar Rp312 triliun. Capaian ini memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu platform investasi dengan basis investor ritel yang terus berkembang di Indonesia.

Sebagai platform investasi lengkap mulai dari reksa dana, obligasi, ETF dan investasi saham, IPOT terus memperkuat peran dengan menggabungkan literasi finansial, teknologi, dan edukasi bagi generasi muda melalui penyelenggaraan Kapolda Jateng Cup 2026

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, mengatakan pertumbuhan dana kelolaan tersebut didukung oleh meningkatnya partisipasi investor muda di pasar modal. Saat ini, IPOT telah melayani lebih dari satu juta nasabah dengan akses investasi yang mencakup saham, reksa dana, obligasi, dan ETF.

"IPOT terus memperkuat perannya sebagai pelopor National AI Transformation Platform, platform investasi berbasis AI yang menggabungkan literasi finansial, teknologi, dan edukasi bagi generasi muda. Melalui keterlibatan di Kapolda Jateng Cup 2026, IPOT mendemokratisasikan fitur AI Trading canggih seperti LADI dan AI Real-Time Cockpit yang dahulu hanya diakses institusi global besar agar dapat digunakan gratis oleh seluruh investor ritel muda Indonesia," tuturnya.

1. Tingkat literasi keuangan masih rendah

ilustrasi literasi keuangan (freepik.com/lenadig)

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses terhadap produk investasi, melainkan peningkatan kualitas literasi keuangan investor muda. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96 persen, sementara tingkat literasi keuangannya baru sebesar 73,22 persen.

"Kesenjangan sebesar 16,74 persen ini menjadi alarm keras bahwa 1 dari 5 anak muda nekat berinvestasi tanpa paham risiko, yang berujung pada rendahnya keaktifan pasar, dimana hanya 1 dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulannya.," ujar Moleonoto.

2. Rendahnya literasi dapat memicu Fomo

ilustrasi literasi keuangan pexels.com/karolina grabowska

Ia menambahkan, rendahnya literasi keuangan berpotensi memicu perilaku investasi berbasis FOMO (fear of missing out), yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas partisipasi investor di pasar modal. Hal tersebut tercermin dari masih rendahnya tingkat aktivitas investor, di mana hanya sekitar satu dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulan.

Untuk memperluas edukasi investasi sekaligus menjangkau generasi muda, IPOT mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam platform investasinya. Perusahaan juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas, termasuk komunitas eSports yang dinilai memiliki karakteristik serupa dengan investor modern, seperti kemampuan membaca data, disiplin, dan mengambil keputusan secara cepat.

3. IPOT gandeng komunitas eSports, ubah kemampuan analitis jadi kekuatan investasi

ilustrasi artificial intellegence (pexels.com/Tara Winstead)

Lebih lanjut, ia menjelaskan, transformasi ini mengubah peran IPOT melampaui sekuritas konvensional menjadi pusat literasi finansial terintegrasi, dimana teknologi AI Robo Trading berfungsi otomatis sebagai pelindung modal dan penegak disiplin investasi demi menghindari bias emosional. Seluruh ekosistem digital ini dipayungi oleh arsitektur keamanan siber berlapis yang sangat ketat (meliputi SIM OTP, ASDI Device Lock, hingga AI Threat Detection 24/7) untuk mengarahkan kompetensi anak muda dari sekadar pengguna teknologi biasa menjadi investor cerdas AI yang mandiri secara finansial.

"Kami percaya komunitas eSports memiliki kemampuan membaca data, disiplin, dan mengambil keputusan cepat. Karakter inilah yang juga dibutuhkan dalam investasi. Melalui edukasi dan teknologi AI, dan sebagai pelopor AI transformation Platform di Indonesia, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik."

Editorial Team

Related Article