Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Dolar AS Babak Belur
kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen ke Rp17.168 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, menunjukkan tren positif dibandingkan hari sebelumnya.
  • Dolar AS tertekan akibat Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah serangan kapal oleh AS, memicu lonjakan harga minyak hingga 7 persen dan kekhawatiran inflasi global.
  • Analis memperkirakan rupiah berpotensi melemah besok karena tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, (20/4/2026).

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup menguat 21 poin atau 0,12 persen ke Rp17.168 per dolar AS sore ini. Pagi tadi, rupiah dibuka menguat ke level Rp17.163 per dolar AS.

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.176 per dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah pada penutupan perdagangan kemarin, Jumar, (17/4/2026), yang berada di level RpRp17.189 per dolar AS. Data JISDOR BI menunjukkan rupiah mengalami penguatan sore ini dibandingkan kemarin.

2. Dolar AS dibentur sentimen negatif dari penutupan kembali Selat Hormuz

Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, sentimen negatif membayangi dolar AS karena Iran menutup kembali Selat Hormuz.

Serangan AS pada kapal Iran kembali memicu tensi di kawasan tersebut, dan membuat Iran tak mau lagi bergabung pada negosiasi putaran kedua.

“Harga minyak melonjak hingga 7 persen pada hari Senin, membuat pasar sebagian besar tegang karena efek inflasi dari perang Iran. Kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi merupakan beban utama pada harga logam sejak dimulainya konflik pada akhir Februari,” kata Ibrahim dalam keterangannya.

3. Rupiah diprediksi melemah besok

Meski begitu, sentimen negatif juga berpotensi menekan penguatan kurs rupiah, dengan kekhawatiran inflasi tinggi akibat kenaikan harga barang-barang, imbas perang di Timur Tengah.

Atas faktor-faktor tersebut Ibrahim melihat potensi kurs rupiah melemah pada perdagangan besok, Selasa (21/4/2026).

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp17.160- Rp17.200,” tutur Ibrahim.

Editorial Team