Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel Beli 5.000 Bom Pintar Boeing GBU-39 Senilai Rp4,87 Triliun
Boeing (unsplash.com/ Sven Piper)
  • Israel menandatangani kontrak senilai Rp4,87 triliun dengan Boeing untuk membeli 5.000 bom pintar GBU-39 guna memperkuat armada jet tempur dan meningkatkan kemampuan serangan presisi jarak jauh.
  • Pengiriman pertama dijadwalkan pada 2029 melalui jalur penjualan komersial langsung, menunjukkan fokus Israel pada penguatan cadangan senjata jangka panjang serta efisiensi biaya produksi bagi Boeing.
  • Kesepakatan ini menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat mempererat aliansi militer dengan Israel di Timur Tengah, termasuk dukungan terhadap pengadaan jet tempur F-15IA sebagai peluncur utama bom tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Israel resmi menjalin kesepakatan besar dengan perusahaan Boeing untuk pengadaan 5.000 unit bom pintar jenis GBU-39. Kontrak senilai 289 juta dolar AS (Rp4,87 triliun) ini dibuat sebagai langkah strategis untuk memperkuat armada jet tempur mereka.

Bom presisi seberat 110 kilogram ini dipilih karena kemampuannya menghantam sasaran dengan sangat akurat dari jarak lebih dari 64 kilometer. Kerja sama ini dilakukan melalui jalur penjualan komersial langsung untuk memastikan ketersediaan stok senjata Israel dalam jangka panjang.

Meskipun pengiriman unit pertama baru akan dimulai pada 2029, pengadaan massal ini menjadi bagian penting dari pembaruan teknologi militer yang didukung oleh Amerika Serikat (AS). Dengan tambahan ribuan amunisi pintar ini, militer Israel dapat menyerang lebih banyak target secara bersamaan dengan risiko kerusakan lingkungan yang lebih rendah.

1. Israel beli bom pintar GBU-39 buatan Boeing untuk perkuat armada pesawat tempur

Israel resmi memperkuat sistem pertahanannya melalui kontrak pengadaan bom pintar GBU-39 Small Diameter Bomb (SDB) buatan perusahaan Boeing. Bom yang memiliki berat sekitar 110 kilogram ini dirancang khusus agar pesawat tempur bisa membawa lebih banyak amunisi dalam satu kali misi. Dengan teknologi sayap lipat yang terbuka setelah dilepaskan, bom ini mampu meluncur dan menghantam sasaran dengan sangat akurat dari jarak lebih dari 64 kilometer.

Keunggulan utama senjata ini terletak pada sistem navigasi satelit yang memastikan ledakan tepat pada sasaran. Selain itu, bom ini sangat kuat karena mampu menembus tembok beton tebal sebelum meledak di dalam target. Militer Israel sendiri sudah lama menggunakan teknologi ini pada jet tempur andalan mereka, seperti F-15, F-16, dan jet tempur canggih F-35.

Penggunaan bom pintar ini memberikan keuntungan bagi pilot karena mereka bisa melepaskan serangan dari jarak jauh tanpa harus mendekati area pertahanan musuh. Amunisi ini juga menggunakan bahan peledak khusus yang stabil dan aman saat disimpan di gudang.

Selain model standar, tersedia juga versi khusus yang dirancang untuk mengurangi dampak kerusakan pada bangunan di sekitar target agar lebih aman bagi warga sipil. Ada juga versi laser yang bisa mengejar target bergerak di medan tempur dengan sangat tepat.

Dengan alat pengait khusus, satu pesawat tempur kini bisa menyerang hingga 12 target berbeda sekaligus dalam satu kali terbang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan angkatan udara Israel selalu siap menghadapi berbagai ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.

2. Israel beli 5.000 bom pintar Boeing senilai Rp4,87 triliun

Pemerintah Israel telah menyepakati pembelian 5.000 unit bom pintar dari perusahaan Boeing dengan nilai total sekitar Rp4,87 triliun. Kerja sama ini dilakukan melalui jalur penjualan komersial langsung antara pihak Boeing dan Pemerintah Israel tanpa melalui proses birokrasi militer antar-pemerintah yang biasanya memakan waktu lama. Meskipun dilakukan secara langsung, rincian kesepakatan ini akan tetap dicatat dalam laporan resmi pemerintah AS sebagai bentuk keterbukaan dalam perdagangan senjata internasional.

Rencananya, pengiriman pertama bom pintar ini baru akan dimulai sekitar tiga tahun lagi atau pada tahun 2029. Jadwal pengiriman yang cukup lama tersebut menunjukkan pembelian ini bertujuan untuk mengisi kembali cadangan senjata nasional dalam jangka panjang, bukan untuk kebutuhan darurat dalam konflik yang sedang terjadi saat ini. Para ahli keuangan memperkirakan, keuntungan besar dari proyek ini bagi Boeing baru akan terlihat jelas pada laporan keuangan perusahaan di tahun 2027 atau setelahnya.

Kabar mengenai kesepakatan ini membuat harga saham Boeing sempat turun sekitar 3,22 persen, karena para investor menganggap proyek ini sebagai tabungan pekerjaan jangka menengah dan bukan pendorong keuntungan cepat bagi perusahaan. Melalui sistem penjualan langsung ini, Boeing memiliki keleluasaan dalam menentukan harga serta jadwal produksi, namun risiko pembayaran sepenuhnya berada di tangan pembeli sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani bersama.

Pihak Boeing menilai kontrak ini sebagai bentuk kepercayaan yang berkelanjutan terhadap divisi pertahanan mereka di tengah tantangan yang dihadapi pada bisnis pesawat komersial. Sejak awal tahun 2000-an, Boeing telah memproduksi lebih dari 17 ribu unit bom jenis ini dengan kapasitas produksi yang tetap stabil di pabrik mereka. Pembelian dalam jumlah massal ini juga membantu menurunkan biaya pembuatan setiap unitnya, sehingga memberikan keuntungan bagi anggaran pertahanan Israel sekaligus menjaga margin keuntungan perusahaan Boeing dalam jangka panjang.

3. AS perkuat aliansi militer Israel lewat pengadaan ribuan bom pintar Boeing

Penandatanganan kontrak ini dilakukan di bawah kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump yang berkomitmen kuat untuk mempererat hubungan militer dengan Israel. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menjaga keamanan di wilayah Timur Tengah, terutama dalam menghadapi pengaruh militer Iran yang terus berkembang.

Meski pengadaan 5.000 unit bom pintar ini tidak berhubungan langsung dengan serangan udara yang sedang terjadi saat ini, ketersediaan senjata canggih dalam jumlah besar menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

Kerja sama pertahanan antara kedua negara ini tidak hanya terbatas pada pengadaan bom, tetapi juga mencakup jet tempur dan helikopter serang. Pada tahun lalu, Boeing telah menyepakati kontrak senilai 8,6 miliar dolar AS (Rp145,21 triliun) untuk memproduksi 25 unit jet tempur F-15IA baru bagi militer Israel. Pesawat-pesawat inilah yang nantinya akan menjadi alat utama untuk meluncurkan bom-bom pintar tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team