Pemerintah Israel telah menyepakati pembelian 5.000 unit bom pintar dari perusahaan Boeing dengan nilai total sekitar Rp4,87 triliun. Kerja sama ini dilakukan melalui jalur penjualan komersial langsung antara pihak Boeing dan Pemerintah Israel tanpa melalui proses birokrasi militer antar-pemerintah yang biasanya memakan waktu lama. Meskipun dilakukan secara langsung, rincian kesepakatan ini akan tetap dicatat dalam laporan resmi pemerintah AS sebagai bentuk keterbukaan dalam perdagangan senjata internasional.
Rencananya, pengiriman pertama bom pintar ini baru akan dimulai sekitar tiga tahun lagi atau pada tahun 2029. Jadwal pengiriman yang cukup lama tersebut menunjukkan pembelian ini bertujuan untuk mengisi kembali cadangan senjata nasional dalam jangka panjang, bukan untuk kebutuhan darurat dalam konflik yang sedang terjadi saat ini. Para ahli keuangan memperkirakan, keuntungan besar dari proyek ini bagi Boeing baru akan terlihat jelas pada laporan keuangan perusahaan di tahun 2027 atau setelahnya.
Kabar mengenai kesepakatan ini membuat harga saham Boeing sempat turun sekitar 3,22 persen, karena para investor menganggap proyek ini sebagai tabungan pekerjaan jangka menengah dan bukan pendorong keuntungan cepat bagi perusahaan. Melalui sistem penjualan langsung ini, Boeing memiliki keleluasaan dalam menentukan harga serta jadwal produksi, namun risiko pembayaran sepenuhnya berada di tangan pembeli sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani bersama.
Pihak Boeing menilai kontrak ini sebagai bentuk kepercayaan yang berkelanjutan terhadap divisi pertahanan mereka di tengah tantangan yang dihadapi pada bisnis pesawat komersial. Sejak awal tahun 2000-an, Boeing telah memproduksi lebih dari 17 ribu unit bom jenis ini dengan kapasitas produksi yang tetap stabil di pabrik mereka. Pembelian dalam jumlah massal ini juga membantu menurunkan biaya pembuatan setiap unitnya, sehingga memberikan keuntungan bagi anggaran pertahanan Israel sekaligus menjaga margin keuntungan perusahaan Boeing dalam jangka panjang.