Boeing Umumkan Pemangkasan 300 Karyawan di Divisi Pertahanan

- Boeing pangkas 300 karyawan di divisi pertahanan untuk restrukturisasi strategis
- Pemangkasan staf pendukung dilakukan akibat kerugian operasional kontrak harga tetap
- Rampingkan struktur organisasi rantai pasok demi jaga stabilitas jangka panjang perusahaan
Jakarta, IDN Times - Boeing secara resmi mengumumkan pemangkasan sekitar 300 posisi pekerjaan pada unit rantai pasok di divisi pertahanannya pada Rabu (4/2/2026). Langkah ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi strategis perusahaan guna menghadapi tekanan finansial yang terus berlanjut.
Di bawah kepemimpinan CEO Kelly Ortberg, kebijakan efisiensi tersebut bertujuan untuk menstabilkan neraca keuangan divisi Defense, Space & Security (BDS) yang saat ini masih mencatatkan kerugian operasional cukup signifikan.
Keputusan ini akan berdampak pada karyawan di berbagai lokasi di Amerika Serikat (AS), dengan surat pemberitahuan resmi yang dijadwalkan akan dikirimkan kepada mereka yang terdampak pada pekan ini. Pihak manajemen Boeing menyatakan, langkah ini diambil setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kebutuhan staf di lingkungan perusahaan.
Meskipun demikian, Boeing tetap memberikan kesempatan bagi karyawan yang memenuhi syarat untuk mengisi lowongan posisi di divisi lain dalam organisasi tersebut demi meminimalisasi dampak pengurangan tenaga kerja.
Table of Content
1. Boeing pangkas posisi rantai pasok divisi pertahanan guna efisiensi operasional
Kebijakan pemangkasan ini secara spesifik menyasar posisi di departemen rantai pasok (supply chain) yang tidak terafiliasi dengan serikat pekerja, di mana jumlah tersebut mencakup sekitar sepuluh persen dari total kelompok kerja rantai pasok di unit pertahanan. Berdasarkan keterangan sumber internal, para karyawan yang terdampak akan menerima pemberitahuan resmi dengan periode peringatan selama 60 hari guna memberikan waktu transisi sebelum pemutusan hubungan kerja berlaku sepenuhnya.
Juru bicara Boeing menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari dinamika operasional perusahaan untuk menjaga daya saing.
"Perusahaan secara teratur mengevaluasi dan menyesuaikan tenaga kerjanya agar tetap selaras dengan komitmen kami terhadap pelanggan dan komunitas," ujar juru bicara Boeing, dilansir dari Economic Times.
2. Boeing pangkas staf pendukung divisi pertahanan akibat kerugian operasional kontrak harga tetap
Keputusan Boeing untuk mengurangi staf pendukung ini didorong oleh realitas finansial yang menantang pada kuartal keempat tahun 2025, di mana divisi pertahanan mencatatkan kerugian operasional sebesar 507 juta dolar AS (Rp8,5 triliun), meskipun pendapatannya melonjak hingga 7,4 miliar dolar AS (Rp124,2 triliun).
Beban utama dalam laporan keuangan tersebut berasal dari struktur kontrak harga tetap (fixed-price contracts) yang membuat perusahaan rentan terhadap inflasi biaya produksi serta gangguan logistik yang tidak terduga. Manajemen Boeing mengakui bahwa tingginya biaya dukungan produksi dan inefisiensi pada rantai pasok telah menggerus margin keuntungan secara signifikan, sehingga perusahaan terpaksa mengambil tindakan korektif yang sulit namun perlu untuk dilakukan.
3. Boeing rampingkan struktur organisasi rantai pasok demi jaga stabilitas jangka panjang
Kebijakan pemangkasan pekerjaan di unit rantai pasok ini menghadirkan ironi tersendiri, mengingat gangguan logistik global saat ini justru menjadi hambatan utama bagi Boeing dalam mengirimkan produk secara tepat waktu. Namun, langkah strategis tersebut nampaknya lebih difokuskan pada penghapusan redundansi administratif serta percepatan proses pengambilan keputusan melalui struktur organisasi yang lebih ramping, alih-alih mengurangi kapasitas fisik logistik perusahaan.
Dengan total backlog pesanan pertahanan yang mencapai 85 miliar dolar AS (Rp1,4 kuadriliun), termasuk permintaan tinggi dari pasar internasional seperti Polandia, tantangan utama bagi Boeing saat ini bukanlah mendapatkan kontrak baru, melainkan mengeksekusi pesanan yang ada secara efisien tanpa menimbulkan biaya pengerjaan ulang yang besar.
CFO Boeing, Jay Malave, turut menekankan pentingnya mempertahankan investasi guna menjaga stabilitas kualitas perusahaan dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Meskipun investasi ini mulai menunjukkan kemajuan, kami perlu mempertahankannya lebih lama dari yang direncanakan sebelumnya untuk mendorong stabilitas," ujar Malave.















