Bandara di Kuwait terkena serangan Iran. (Dok Istimewa)
Berbagai pemerintah di dunia kini bergerak cepat melakukan evakuasi darurat bagi warga negara mereka yang terjebak akibat penutupan ruang udara di Timur Tengah. Kanada menjadi salah satu negara yang paling sibuk, di mana Menteri Luar Negeri Anita Anand mengonfirmasi bahwa lebih dari 2.000 warganya telah meminta bantuan untuk segera pulang.
"Saya ingin berbicara langsung sekarang kepada warga Kanada di Timur Tengah dan wilayah Teluk. Pemerintah menyertai Anda. Kami bekerja keras untuk Anda, dan kami sedang mengatur opsi bagi Anda untuk meninggalkan wilayah tersebut," kata Anita Anand, dilansir The Straits Times.
Selain lewat jalur udara yang sangat terbatas, pemerintah Kanada juga menyiapkan bus untuk membawa warga dari Qatar menuju Arab Saudi, serta dari Israel menuju Mesir agar bisa mencapai bandara yang masih buka. Tantangan utama dalam operasi ini adalah sulitnya mendapatkan izin terbang, terutama di wilayah Uni Emirat Arab.
Australia juga memprioritaskan kepulangan sekitar 115 ribu warganya, dengan 24 ribu orang di antaranya berada di Uni Emirat Arab. Kelompok pertama yang berjumlah 200 warga Australia telah berhasil mendarat di Sydney setelah menempuh perjalanan dari Dubai.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengingatkan bahwa jadwal penerbangan selanjutnya sangat bergantung pada situasi perang yang bisa berubah kapan saja. Selain itu, negara-negara seperti Inggris, Prancis, Polandia, Republik Ceko, dan China terus mengirim pesawat sewaan serta pesawat militer untuk menjemput warga mereka melalui negara tetangga seperti Oman dan Yordania.