AHY Soroti Nasib Sektor Penerbangan dan Energi usai Perang Israel-Iran

- AHY menyoroti dampak konflik Israel-AS terhadap sektor penerbangan, menekankan pentingnya keselamatan karena jalur udara sulit diprediksi di tengah situasi perang.
- Ia juga memperingatkan potensi tekanan besar pada sektor energi global akibat ketegangan di Timur Tengah yang menjadi pusat pasokan energi dunia.
- Pakar ekonomi memprediksi harga minyak bisa melonjak hingga 120 dolar AS per barel, memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Jakarta, IDN Times - Menteri Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti dampak eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat (AS) terhadap sektor penerbangan dan energi global. Untuk sektor penerbangan, AHY mengatakan maskapai akan menempatkan faktor keselamatan sebagai prioritas utama di tengah situasi perang yang sulit diprediksi.
“Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu penerbangan. Tetapi maskapai pasti menghitung ulang faktor keselamatan, karena lintasan tidak bisa diprediksi, apalagi dalam situasi perang dengan penggunaan misil atau rudal jarak jauh,” kata AHY saat ditemui usai Acara Perayaan Imlek Festival, Sabtu (28/2/2026).
Selain sektor transportasi, dia juga menyoroti potensi tekanan terhadap sektor energi global. Konflik di Timur Tengah, yang merupakan kawasan strategis pasokan energi dunia, berisiko memicu volatilitas harga dan berdampak pada perekonomian berbagai negara.
"Kita berharap (perang) bisa segera berakhir-lah yang begini-begini ya. Karena memang ini akan mengakibatkan tidak hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga akan menyebabkan berbagai tantangan yang berat di sektor ekonomi, termasuk energi dunia" tegasnya.
Para pakar memperkirakan kenaikan harga minyak masih berpotensi berlanjut apabila ketegangan geopolitik tidak segera mereda. Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan harga minyak dunia bisa menyetuh level seperti saat Rusia menginvasi Ukraina, yakni 120 dolar AS per barel. Lonjakan harga energi akan memicu tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.


















