ilustrasi ASEAN (commons.wikimedia.org/Gunawan Kartapranata)
Penyaluran dana ini akan dikelola secara teknis oleh lembaga keuangan pemerintah Jepang, yakni Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Nippon Export and Investment Insurance (NEXI). Kedua lembaga ini akan menyediakan fasilitas pinjaman darurat bagi perusahaan dan otoritas energi di Asia Tenggara yang membutuhkan likuiditas untuk pembelian minyak di tengah volatilitas pasar. Dana tersebut diestimasi mampu mengamankan sekitar 1,2 miliar barel minyak, yang setara dengan total kebutuhan impor tahunan negara-negara ASEAN.
"Jepang tidak hanya sekadar menyediakan minyak bagi negara yang terdampak situasi di Timur Tengah, tetapi juga akan bekerja sama dengan negara-negara Asia untuk membangun rantai pasokan energi yang kuat dan tangguh," kata Perdana Menteri Sanae Takaichi, dilansir Japan Today.
Fokus utama penyaluran dana ini adalah memfasilitasi diversifikasi sumber dan rute pasokan energi, yang memungkinkan negara seperti Vietnam, Filipina, dan Bangladesh untuk mengalihkan pengadaan minyak dari wilayah Amerika Utara, khususnya Amerika Serikat. Langkah ini merupakan strategi mitigasi terhadap gangguan navigasi di Selat Hormuz. Saat ini, negara seperti Bangladesh berisiko mengalami kekurangan cadangan bahan bakar domestik jika tidak ada intervensi pasokan yang memadai.
"Tokyo berupaya memitigasi risiko ini melalui dukungan finansial, termasuk fasilitas pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation, agar harga energi di negara penerima manfaat tetap stabil," kata seorang pejabat senior pemerintah Jepang, dilansir Business Times.