Investasi Jepang di AS Picu Kekhawatiran Peningkatan Emisi Karbon

- Lebih dari 90% investasi Jepang senilai 550 miliar dolar AS di AS dialokasikan untuk proyek energi fosil, berpotensi menghasilkan emisi setara 20% total emisi tahunan Jepang.
- Koalisi 29 organisasi masyarakat sipil mengecam dukungan finansial JBIC dan NEXI terhadap proyek tersebut karena dinilai melanggar komitmen G7 dan target iklim global.
- Dalam pertemuan puncak Maret 2026, PM Sanae Takaichi dan Presiden Donald Trump sepakat memperkuat rantai pasokan energi melalui gelombang investasi kedua di sektor nuklir dan gas alam.
Jakarta, IDN Times - Investasi Jepang di Amerika Serikat (AS) dalam sektor energi dan industri, memicu kekhawatiran iklim. Ini setelah sebagian besar dana dialokasikan untuk proyek berbasis bahan bakar fosil dengan emisi karbon tinggi.
Menurut laporan Asahi Shimbun pada Sabtu (11/4/2026), lebih dari 90 persen dari gelombang pertama investasi Jepang ke AS, bagian dari kesepakatan perdagangan senilai 550 miliar dolar AS (sekitar Rp9.339 triliun), digunakan untuk proyek pembangkit listrik tenaga gas dan fasilitas ekspor minyak mentah. Secara keseluruhan, Jepang menginvestasikan sekitar 36 miliar dolar AS (Rp615 triliun) dalam tiga proyek utama, termasuk pabrik berlian sintetis di Georgia.
Jika beroperasi penuh, proyek-proyek tersebut diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca setara hingga 20 persen emisi tahunan Jepang. Investasi ini dinilai bertentangan dengan komitmen iklim global terhadap Perjanjian Paris dan target emisi nol bersih Jepang dalam 25 tahun ke depan.
1. Dominasi proyek emisi tinggi

Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Ohio
Proyek senilai 33,3 miliar dolar AS (Rp569 triliun) ini diklaim sebagai pembangkit gas terbesar di dunia, yang mampu menghasikan 9,2 gigawatt listrik. Jika beroperasi, 60 persen emisi tahunannya mencapai 15,5 juta ton CO2. Ini berarti setara dengan total emisi satu negara, seperti Nepal.
Fasilitas Ekspor Minyak di Texas
Dengan target ekspor hingga 450 juta barel minyak mentah per tahun, emisi siklus hidup yang dihasilkan saat minyak tersebut dibakar diperkirakan mencapai 200 juta ton CO2 per tahun.
Secara gabungan, kedua proyek tersebut dapat menyumbang sekitar 0,5 persen emisi CO2 dunia dan setara dengan 14-21 persen dari total emisi tahunan Jepang. Fasilitas-fasilitas tersebut diperkirakan beroperasi selama 30 hingga 40 tahun.
2. Reaksi keras aktivis terhadap investasi yang berdampak pada perubahan iklim

Langkah ini memicu kecaman dari koalisi 29 organisasi masyarakat sipil dari kedua negara, yang mendesak pembatalan dukungan finansial melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Nippon Export and Investment Insurance (NEXI). Mereka mengatakan investasi dalam proyek tersebut tidak dapat diterima di tengah meningkatnya bencana iklim di Jepang dan di seluruh dunia.
Investasi ini juga melanggar perjanjian G7 pada 2022 untuk mengakhiri dukungan publik baru bagi sektor bahan bakar fosil internasional yang tidak terkendali.
"Sangat sulit untuk menyelaraskan realitas perubahan iklim berbasis sains dengan investasi berkelanjutan pada infrastruktur fosil," ujar Nathan Hultman, profesor di Maryland University dan mantan penasihat senior Departemen Luar Negeri AS.
Meskipun Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan bahwa infrastruktur fosil baru tidak diperlukan demi target suhu 1,5 derajat celcius, tetapi pemerintah Jepang berdalih proyek ini masuk dalam pengecualian terbatas untuk keamanan nasional dan ekonomi.
"Proyek ini menguntungkan Jepang karena perusahaan domestik seperti Toshiba, Softbank, Mitsui OSK Lines, dan Nippon Steel akan memasok peralatan," kata seorang pejabat kementerian perdagangan Jepang.
3. Jepang-AS berkomitmen memperkuat rantai pasokan energi

Dalam pertemuan puncak antara Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dan Presiden AS Donald Trump pada Maret 2026, kedua pemimpin menyambut kemajuan 'Investasi Strategis Jepang-AS'. Mereka juga mengumumkan gelombang investasi kedua yang mencakup, Pembangunan Reaktor Modular Kecil (SMR) di Tennessee dan Alabama senilai 40 miliar dolar AS (Rp683,5 triliun). Serta, pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam di Pennsylvania dan Texas senilai 33 miliar dolar AS (Rp563,9 triliun).
Takaichi dan Trump menegaskan bahwa kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasokan energi untuk pusat data dan teknologi global. Keduanya menyebut proyek tersebut menandai Era Keemasan Baru dalam aliansi kedua negara, dilansir dari laman resmi Departemen Perdagangan AS.


















