Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kadin Minta Batalkan Impor Pick Up 105 Ribu Unit dari India
Wakil Ketua Umum Kadin Perindustrian, Saleh Husin, menilai pembentukan BUMN tekstil bisa berdampak signifikan. (Dok. Istimewa)
  • Kadin meminta Presiden Prabowo membatalkan impor 105 ribu unit pick up dari India karena dinilai bisa melemahkan industri otomotif nasional dan tidak memberi dampak ekonomi signifikan.
  • Industri otomotif dalam negeri disebut memiliki kapasitas produksi besar dengan TKDN tinggi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan kendaraan program Koperasi Desa tanpa perlu impor.
  • PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor 105 ribu unit pick up dari Mahindra dan Tata Motors secara bertahap sepanjang 2026 untuk mendukung operasional Kopdes.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Presiden Prabowo Subianto membatalkan rencana impor 105.000 unit mobil pick up untuk kendaraan niaga operasional Koperasi Desa (Kopdes)/Kelurahan Merah Putih. Alasannya, karena dapat melemahkan industri otomotif dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin mengatakan, Kadin menyampaikan hal tersebut setelah berdiskusi dengan pelaku dan asosiasi industri otomotif di tanah air.

"Kami mengimbau presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga," kata dia, dikutip dari ANTARA, Minggu (22/2/2026).

1. Bisa matikan industri otomotif nasional

Suzuki Carry Pick Up (dok. Suzuki)

Kadin menyampaikan, impor kendaraan pick up dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) berisiko mematikan industri otomotif nasional. Selain itu, juga tidak memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian domestik.

Saleh menuturkan, industri otomotif di dalam negeri siap melayani kebutuhan kendaraan bagi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Menurutnya, kebijakan impor perlu diselaraskan dengan visi industrialisasi pemerintah yang menekankan hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan nilai tambah ekonomi nasional. Pembangunan industri dalam negeri, kata dia, harus dijaga melalui regulasi yang tepat.

"Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh," ujarnya.

2. Kapasitas produksi pick up nasional cukup besar

Daihatsu Gran Max Pick Up (Daihatsu.co.id)

Adapun pelaku industri menilai kapasitas produksi pick up secara nasional sebenarnya cukup besar. Total kapasitas produksi pick up nasional mencapai ratusan ribu unit per tahun, belum dimanfaatkan secara optimal, dengan dukungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40 persen, dan jaringan layanan purna jual yang luas.

Kadin menilai pemerintah perlu memastikan kebijakan perdagangan tidak berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan penguatan industri domestik. Sinkronisasi antara kementerian terkait, menurutnya, penting agar program pembangunan desa dapat menjadi stimulus bagi industri otomotif nasional.

"Namun secara kebijakan industri, pemerintah tetap harus berhati-hati agar pembangunan koperasi desa tidak justru melemahkan utilisasi pabrik otomotif dalam negeri," ucap Saleh.

Kadin menyatakan, pemerintah memiliki ruang untuk merancang skema yang lebih berpihak kepada industri nasional. Misalnya, memprioritaskan kendaraan dengan TKDN tinggi, mendorong perakitan dalam negeri, atau membangun kemitraan manufaktur lokal.

3. Agrinas akan impor 105 ribu pick up dari India

Kantor pusat PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

PT Agrinas Pangan Nusantara berencana melakukan impor 105 ribu unit kendaraan pick up dari India untuk mendukung operasional kopdes. Pengiriman kendaraan dilakukan secara bertahap sepanjang 2026.

Impor tersebut terdiri dari 35 ribu unit mobil pick up 4x4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M), 35 ribu unit pick up 4x4 dari Tata Motors, dan 35 ribu unit truk roda enam dari produsen yang sama.

Editorial Team