Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bos Agrinas Pangan Ungkap Alasan Impor Mobil India buat Koperasi Desa

Bos Agrinas Pangan Ungkap Alasan Impor Mobil India buat Koperasi Desa
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), Joao Angelo De Sousa Mota. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India untuk mendukung operasional distribusi logistik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
  • Direktur Utama Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan, impor dilakukan karena harga dari Mahindra dan Tata Motors jauh lebih murah, sehingga perusahaan bisa menghemat hingga Rp43 triliun.
  • Keputusan impor juga diambil karena kapasitas produksi kendaraan dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan proyek, sementara kendaraan 4x4 dibutuhkan untuk medan pertanian yang menantang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) membenarkan kabar impor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Lebih rinci, Agrinas Pangan melakukan impor 35 ribu unit mobil pikap 4x4 merek Scorpio buatan Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M). Kemudian, Agrinas Pangan mengimpor 35 ribu unit pikap 4x4 merek Tata Yodha, dan 35 ribu unit truk merek Ultra T.7 buatan Tata Motors.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota mengatakan, dua jenis kendaraan tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan distribusi logistik, terutama komoditas pertanian ke KDKMP.

“Kenapa kita perlu 4x4? kKrena memang kita perlu untuk digunakan di daerah-daerah yang kondisi lahannya memang sangat menantang. Dan hampir di semua baik di Jawa pun kalau untuk ke sawah-sawah, itu lahannya sangat menantang, sehingga kita perlu mobil 4x4,” ujar Joao saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

1. Dapat harga murah dari produsen India

IMG_7211.jpeg
Mobil pikap Scorpio produksi Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M). (dok. Mahindra)

Joao mengatakan, dua produsen itu dipilih karena memberikan harga yang jauh lebih murah. Dia mengaku, dengan melakukan pengadaan mobil dari India itu, Agrinas Pangan bisa menghemat biaya hingga Rp43 triliun.

“Kalau kita menggunakan e-katalog (pengadaan dalam negeri), itu cost-nya sudah kami hitung sekitar Rp121 triliun. Tetapi dengan kami menggunakan direct buying kepada perusahaan-perusahaan pabrik-pabrik langsung, kita bisa mengefisiensikan sekitar Rp43 triliun, itu hanya untuk sarana-prasarana,” ujar Joao.

2. Mobil yang diimpor diklaim berkualitas dan tahan banting

IMG_7213.jpeg
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) mengimpor 70 ribu unit mobil dari Tata Motors untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). (dok. Tata Motors Indonesia)

Joao mengatakan, kedua produsen India itu, baik Mahindra maupun Tata Motors sudah diakui kemampuannya dalam membuat mobil operasional.

“Dan mobil-mobil ini kita lihat di India proven. Yang umurnya ada yang sudah 40-an tahun gitu di India. Kita sendiri tidak tahu, ternyata Willys itu buatannya Mahindra, Jeep G7 itu buatannya Mahindra gitu. Kita dari dulu berpikir bahwa itu buatannya Amerika. Ternyata tidak. Dan Tata sendiri sekarang pun sangat maju. Termasuk Tata itu yang pemilik Range Rover,” tutur Joao.

3. Impor dilakukan karena kapasitas produksi dalam negeri tak cukup

IMG_4101.jpeg
Kantor pusat PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Joao mengatakan, impor itu dilakukan setelah memastikan bahwa kapasitas industri dalam negeri terbatas. Dia mengatakan, produksi mobil pikap di Indonesia hanya sekitar 70 ribu, di mana tidak bisa memenuhi kebutuhan proyek KDKMP.

“Nah truk ini pertama kita kasih dulu ke pasar Indonesia. Semua supplier, produsen mobil di Indonesia tidak ada lagi bisa memproduksi, baru kita mengambil dari India. Supaya juga tidak mengganggu distribusi mereka, dan market mereka yang selama ini sudah ada,” ujar dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More