Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)
Jepang berupaya mengejar ketertinggalan global, di mana saat ini dominasi dalam volume produksi kapal, terutama untuk kapal pengangkut LNG, ditempati oleh China dan Korea Selatan (Korsel). Galangan kapal Jepang terakhir kali mengirimkan unit LNG pada 2019, melalui Mitsubishi Heavy Industries Ltd dan Kawasaki Heavy Industries Ltd.
Jepang tidak kehilangan kemampuan pembuatan kapal. Namun, tekanan biaya, konsolidasi industri, dan pesaing yang lebih kuat di China dan Korsel telah mendorongnya keluar dari pasar kapal pengangkut LNG. Beijing memimpin dalam volume pembuatan kapal secara keseluruhan, dan Seoul memimpin dalam produksi kapal pengangkut LNG bernilai tinggi.
Proyek LNG membutuhkan investasi modal yang besar dan beroperasi dalam jangka waktu yang panjang. Perusahaan minyak besar memprioritaskan ketepatan pengiriman, kredibilitas teknis yang terbukti, serta garansi dan layanan purna jual daripada sekadar harga.
Menurut pengamat industri, galangan kapal Korsel telah mempertahankan rekam jejak yang kuat, dengan insiden kualitas atau keterlambatan yang lebih sedikit dibandingkan pesaing yang lebih baru. Namun, China semakin mendekat. Galangan kapal China telah meningkatkan pengiriman kapal pengangkut LNG, sehingga keunggulan Korsel mungkin hanya bersifat sementara.
Korea Herald melaporkan, hingga Januari 2026, galangan kapal China telah memenangkan pesanan setidaknya 13 kapal pengangkut LNG tahun ini. Sementara, galangan kapal Korsel hanya mendapat 8 kapal. Hudong Zhonghua dan Jiangnan Shipyard, keduanya anak perusahaan China State Shipbuilding Corp (CSCC), memimpin perolehan tersebut.
Untuk diketahui, CSCC adalah konglomerat pembuatan kapal terbesar di dunia. Perusahaan tersebut dibentuk melalui penggabungan dua perusahaan milik negara, guna mengekang persaingan yang berlebihan dan mengkonsolidasikan pangsa pasar.