Umumkan Force Majeure, Qatar Tutup Fasilitas LNG

- QatarEnergy menetapkan status force majeure setelah fasilitas LNG di Ras Laffan diserang rudal Iran, menyebabkan penghentian total produksi gas alam cair dan produk turunannya.
- Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi serangan drone Iran ke tangki air dan fasilitas industri, tanpa korban jiwa namun memicu penghentian produksi berbagai produk hilir penting.
- Dampak serangan meluas ke sektor industri dan bursa, empat perusahaan besar di Qatar mengurangi atau menangguhkan operasi, termasuk produsen petrokimia dan aluminium utama negara tersebut.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan energi raksasa QatarEnergy resmi menyatakan status force majeure atau keadaan darurat setelah rudal milik Iran menargetkan fasilitas energi mereka di Ras Laffan.
Insiden tersebut mengakibatkan penghentian total produksi gas alam cair (LNG) dan produk turunannya, yang berdampak langsung pada pengiriman kepada para pembeli global.
“QatarEnergy menghargai hubungan dengan seluruh pemangku kepentingannya dan akan terus menyampaikan informasi terbaru yang tersedia,” demikian bunyi pernyataan resmi perusahaan, dilansir Doha News, Kamis (5/3/2026).
1. Serangan Iran paksa Qatar setop operasional dua pusat industri

Langkah QatarEnergy menyatakan status darurat merupakan tindak lanjut atas keputusan penghentian produksi LNG serta produk terkait lainnya, sebagai respons langsung atas serangan Iran yang menyasar kompleks operasional di Ras Laffan dan Mesaieed.
Kedua wilayah tersebut merupakan pusat industri paling krusial bagi Qatar dalam memproduksi sekaligus mengekspor energi ke pasar internasional.
Melalui pernyataan resminya, perusahaan memastikan akan terus memantau situasi dan memperbarui informasi bagi para mitra dagang yang terdampak penghentian pasokan ini.
2. Drone sasar tangki air dan fasilitas industri

Kementerian Pertahanan Qatar telah mengonfirmasi sejumlah drone Iran menargetkan tangki air di Mesaieed serta fasilitas industri QatarEnergy di Ras Laffan Industrial City pada Senin lalu. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Dampak serangan tersebut meluas hingga ke sektor hilir. Pada Selasa, QatarEnergy mengumumkan penghentian produksi berbagai produk hilir, mulai dari urea, polimer, metanol, hingga aluminium untuk mengantisipasi risiko lebih lanjut terhadap fasilitas operasional milik negara tersebut.
3. Empat perusahaan besar di bursa Qatar mulai kurangi operasi

Menyusul penghentian produksi oleh QatarEnergy, empat perusahaan yang melantai di Bursa Efek Qatar (QSE) berencana mengurangi hingga menangguhkan sebagian operasi mereka.
Messaied Petrochemical Holding Company melaporkan anak perusahaannya akan menghentikan produksi produk tertentu, sementara Gulf International Services mulai menangguhkan sejumlah layanan terkait energi.
Sektor logam pun ikut terdampak, di mana Qatar Aluminium Manufacturing Company melalui perusahaan patungan Qatalum akan melakukan penghentian operasi smelter secara bertahap mulai Rabu dan diperkirakan selesai akhir Maret mendatang.
Pemilik bersama Qatalum, Hydro, juga telah menyatakan status force majeure kepada para pembelinya.
Selain itu, Industries Qatar turut mengumumkan rencana pengurangan produksi, dengan rincian lebih lanjut yang akan disampaikan menyusul ketersediaan informasi tambahan.










.jpg)






