Ilustrasi omzet naik (IDN Times/Arief Rahmat)
Ini kan sebenarnya kalau berurusan dengan sampah ada dua kepentingan ibaratnya ya, antara misi lingkungan dan profitabilitas bisnis. Untuk menyeimbangkan keduanya ini gimana?
Nah, kalau untuk di saya ya, dua itu memang harus sangat seimbang karena kami di sini kan tidak dibiayai siapa pun nih. Kami pure mandiri nih gitu lho, tetapi ada misi yang kami bawa, misi sosial yang kami bawa yaitu adalah penyerapan sampah plastik secara kontinu, secara bersinambungan.
Tentu saja itu tidak akan bisa kami dapatkan kalau kami tidak dapat profit. Staf-staf kita itu kan mereka juga ingin diperlakukan secara layak nih. Kita juga harus, contoh nih untuk minimal UMR lah ya, UMR habis itu kita juga harus survive.
Karena kami di sini tidak punya mentor ya ya, jadi semuanya based on riset. Bahkan alat-alat kami di sini yang kami pakai itupun adalah hasil riset saya pribadi. Harus ada juga tuh apa namanya saving untuk bagian riset tuh, karena kita untuk meningkatkan produksi, meningkatkan penyerapan sampah itu kan kita perlu mesin-mesin atau alat-alat tambahan kayak gitu.
Jadi dua itu tuh memang bener-bener harus balance. Dan ditambah juga sebenarnya ngurusin sampah itu kan memang mahal. Iya kan kalau itu sih dari dulu itu terlihatnya murah dan mudah itu karena nggak diurusin. Jadi profit yang kami dapat sejauh ini memang disasar untuk dua hal, satu adalah penyerapan sampah yang lebih banyak yang kedua adalah kesejahteraan dari tim kami itu.
Modalnya sendiri berapa untuk membangun ekosistem ini?
Wuih, kalau modal itu jujur ya, itu kan bertahap tuh. Tetapi saya masih ingat modal awal saya 2016 untuk membuat pertama kali terpikiran untuk membuat Rumah Plastik itu modal awal saya tuh Rp25 juta. Dari sanalah bergulir gitu lho ya.
Kita tidak bermain besar langsung besar gitu karena ya bisnis yang saya jalani kan tidak lazim nih. Tidak lazim, saya juga tidak punya mentor ditambah juga ya gitu jadi kita mulai tuh bertahap gitu lho awalnya Rp25 juta.
Ini kan berarti sudah berjalan 10 tahun ya. Nah, untuk bicara profitabilitas mungkin bisa disebutkan nggak sih berapa?
Kalau omzet kan naik turun ya. Nah, untuk omzet kami saat ini memang ya masih di bawah tidak harus PKP pastinya. Kami kan ngurusin pajak nih. Omzet kami per tahunnya itu masih ya tidak harus PKP gitu.
Itu tuh memang ada beberapa lini yang kita jalani, tidak hanya satu lini. Kita punya beberapa lini ya ya di Rumah Plastik itu ada divisinya nih. Ada divisi daur ulang di mana ngebuat sampah itu menjadi bahan baku habis itu bahan bakunya itu dijual ke pabrik ya, itu satu.
Yang kedua adalah produksi produk di mana kami buat-buat produk itu. Yang ketiga adalah kami juga di sini ada yang belajar, ada yang mau copy-paste gitu kami, jadi kita buatnya tuh kayak eco-tourism. Dan yang terakhir adalah, nah kebetulan nih banyak yang suka dengan mesin-mesin buatan kami jadi ya ujung-ujungnya ya ada divisi mesin juga. Begitu.
Kalau omzet yang kena pajak itu kan kalau saya baca itu di atas Rp4,8 miliar?
Betul.
Nah, berarti rentangnya di mana nih gitu?
Ya 60-70 persennya lah dari PKP.