Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Bisnis Cuan Miliaran Rupiah dengan Menyulap Sampah Plastik
Rumah Plastik Mandiri. (Instagram/rumahplastik_mandiri)

  • Putu Eka Darmawan membangun Rumah Plastik Mandiri sejak 2016 dengan modal Rp25 juta dan kini meraih omzet miliaran rupiah lewat pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Stabilitas rantai pasok dijaga lewat kerja sama dengan bank sampah serta penetapan harga beli tetap sejak 2020, memastikan suplai bahan baku berkelanjutan meski di tengah fluktuasi pasar.
  • Bisnis berkembang ke empat lini utama: daur ulang bahan baku, produksi barang jadi, eco-tourism edukatif, dan pembuatan mesin pengolah plastik hasil riset internal yang mendukung inovasi berkelanjutan.
  • Putu Eka Darmawan membangun Rumah Plastik Mandiri sejak 2016 dengan modal Rp25 juta dan kini meraih omzet miliaran rupiah lewat pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Stabilitas rantai pasok dijaga melalui kerja sama dengan bank sampah serta penetapan harga beli tetap sejak 2020, memastikan suplai plastik berkelanjutan meski di tengah fluktuasi pasar.
  • Bisnis berkembang ke empat lini utama: daur ulang bahan baku, produksi barang jadi, eco-tourism edukatif, dan pembuatan mesin pengolah plastik hasil riset internal yang mendukung inovasi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Berawal dari modal Rp25 juta di tahun 2016, Putu Eka Darmawan sukses menyulap limbah menjadi pundi-pundi rupiah melalui Rumah Plastik Mandiri. Kini unit usahanya mampu mencatatkan omzet tahunan di angka miliaran rupiah.

​Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Eka membangun ekosistem pengolahan yang stabil dengan menjaga harga beli sampah sejak 2020, sehingga rantai pasok dari bank sampah dan pengepul tetap terjaga.

Kini, bisnisnya telah berkembang ke empat lini utama: daur ulang bahan baku, produksi barang jadi, eco-tourism, hingga pembuatan mesin pengolah plastik sendiri. Berikut wawancara lengkapnya dengan IDN Times!

1. Kisah di balik pendirian Rumah Plastik Mandiri

Rumah Plastik Mandiri. (Instagram/rumahplastik_mandiri)

Apa titik balik atau peristiwa spesifik yang membuat Anda memutuskan untuk berhenti dari kegiatan atau pekerjaan sebelumnya dan fokus membangun Rumah Plastik Mandiri ini?

Titik baliknya, awalnya tidak bisa dipungkiri kalau saya ngebangun Rumah Plastik tuh kayak, oke kita coba-coba ya, tidak bisa dipungkiri, tapi titik baliknya adalah di mana saya dapat penghargaan yang tidak hanya uang gitu lho. Usahakan kita cari uang nih, kita nggak hanya dapet itu, tapi di saat kita membantu orang lain ngurusin masalah mereka, saya mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru dan apa ya...

Kayak, waktu itu saya ngebantu ya salah satu staf sih. Dulu waktu sebelum kerja dengan saya, dia punya anak yang mau dia drop out karena nggak punya duit untuk ngelanjutin sekolah. Habis itu saya tawarin, ya udah saya bantu tapi kamu kerja di tempat saya dan semuanya seperti itu.

Nah, sekarang anaknya udah lulus, udah gede, sekarang malah udah kerja di kapal pesiar dan anaknya minta izin untuk biar ibunya itu, karena udah tua kan, ibunya itu biar bisa selesai kerja. Dapet nggak? Jadi seorang anak kecil yang dulu hampir putus sekolah, sekarang minta izin sama saya agar ibunya bisa istirahat dari kerja.

Hal-hal yang seperti itu yang membuat saya itu kayak, oke ternyata apa yang saya lakukan di sini tidak hanya cuma menyelesaikan masalah, bantu orang nyelesaiin masalah sampah mereka, tapi juga membantu mereka dapetin penghidupannya. Hal-hal seperti itu sih ya.

Untuk pemilihan nama sendiri nih, Rumah Plastik Mandiri ini ada filosofi nggak sih di balik pemilihan nama itu?

Filosofi... nggak sih, karena apa namanya di saat pemilihan saya cuma merasa oke saya ingin menjadi tempat di mana kita tuh menyelesaikan dan meng-upgrade sampah plastik sih. Itu sih alasannya karena kita kan bergerak dengan semua sampah plastik ya tanpa terkecuali, dan kita berusaha menjadi rumah untuk mereka.

Jadi kalau rumah bahasanya itu kan, kalau sudah masuk ke rumah berarti kita udah tenang, udah aman. Jadi di saat sampah plastik masuk ke kami, ya udah kami mau orang lain itu percaya kalau semuanya bakal tertangani gitu.

2. Strategi menjaga stabilitas rantai pasok sampah

Rumah Plastik Mandiri. (Instagram/rumahplastik_mandiri)

Saat pertama kali memulai, tantangan terbesar untuk meyakinkan warga bahwa sampah plastik ini memiliki nilai ekonomi tuh seperti apa?

Tantangan terbesar untuk itu ya gini... Di saat kami bergerak, pertama kali bergerak, kita kan berusaha itu tidak bergerak layaknya pengepul atau pemulung tuh ya, tinggal ambil, kirim, jual, ambil, jual, ambil, jual. Kami bener-bener berusaha mendekatkan chain supply-nya. Jadi kumpul ke sini habis itu kita mengolah, dan mengolah itu kita kirim, yang kita jual itu adalah hasil olahannya gitu ya.

Cuma yang ada di sana itu adalah rata-rata masyarakat itu sulit memilah. Karena pengepul-pengepul ataupun perongsok yang biasa itu kan mereka main nyaruk semua, main ngambil semua gitu. Mereka tidak peduli apakah itu tuh di sana tuh keadaannya seperti apa, seperti apa.

Nah, itu yang membuat kita itu bisa dibilang kewalahan di awalnya. Kita berusaha nih menghadirkan nilai yang lebih tinggi, cuma dengan catatan masyarakat harus memilah gitu lho. Jadi nilai yang mereka dapatkan dari sampah itu kerasa, awalnya berpikir seperti itu. Nah, masalahnya emang di sana sih karena sudah terbiasa mungkin ya.

Nah, untuk mengatasi persoalan rantai pasok ini, gimana membangun sistem untuk pengumpulan sampahnya supaya tetap stabil?

Untuk yang di awal sih pertama-tama kita kan, apa namanya, kita kan bekerja sama dengan bank sampah ya ya. Jadi kita bikin MOU kerja sama dengan banyak bank sampah, dengan TPS 3R juga. Dari sana awalnya.

Nah, karena kami mengolah di sini tentu kami bisa menghadirkan yang namanya itu kestabilan harga ya. Nah, dari kestabilan harga itulah, jadi kayak contoh nih di waktu Covid, pengepul-pengepul pada nggak mau nerima plastik karena harganya menurut mereka itu jatuh. Tapi karena kami mengolah, harga kami kan cenderung sustain ya, stabil. Nah, kayak gitu.

Di saat kita sudah menghadirkan kestabilan harga, bahkan kami sudah menstabilkan harga kami semenjak 2020 ya ya, sudah tidak perubah-perubahan harga lagi, itu mulai satu demi satu ya pengepul mulai masuk juga gitu lho. Dari kestabilan harga itulah apa namanya supply kami tuh aman.

3. Proses produksi dan riset teknologi pengolahan

Rumah Plastik Mandiri. (Instagram/rumahplastik_mandiri)

Bisa diceritakan proses teknis di Rumah Plastik Mandiri ini mulai dari sampah masuk sampai menjadi suatu produk yang bernilai tambah?

Secara apa namanya general itu sebenarnya sama, kayak pertama pasti masuk habis itu sortir, habis sortir habis itu dicacah, dicuci, dikeringkan habis itu di-melting sampai jadi lembaran. Setelah jadi lembaran baru dibentuk menjadi produk yang kita mau, sebenarnya seperti itu dasarnya.

Skema tersebut itu kan karena kita bikin pakem yang pastinya. Jadi kayak kita riset tuh dari 2017 tuh untuk apa bagaimana untuk peleburan umpamanya, cacahan besar berapa mili yang bagus daya apa namanya titik keleburannya itu.

Habis itu kita juga riset tentang bagaimana sih cara biar pembersihan. Namanya juga sampah ya, ngebersihin sampah plastik itu biar bener-bener bersih tidak terkontaminasi yang lain-lain.

Nah, itu fokusnya sampai di saat sudah menjadi lembaran papan, di sana kami riset lagi tuh gimana caranya menggunakan papan tersebut. Apakah digunakan diproses layaknya kayu kah atau diproses layaknya besi kah, kan plastik nih beda ya.

4. Omzet dan diversifikasi lini bisnis

Ilustrasi omzet naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Ini kan sebenarnya kalau berurusan dengan sampah ada dua kepentingan ibaratnya ya, antara misi lingkungan dan profitabilitas bisnis. Untuk menyeimbangkan keduanya ini gimana?

Nah, kalau untuk di saya ya, dua itu memang harus sangat seimbang karena kami di sini kan tidak dibiayai siapa pun nih. Kami pure mandiri nih gitu lho, tetapi ada misi yang kami bawa, misi sosial yang kami bawa yaitu adalah penyerapan sampah plastik secara kontinu, secara bersinambungan.

Tentu saja itu tidak akan bisa kami dapatkan kalau kami tidak dapat profit. Staf-staf kita itu kan mereka juga ingin diperlakukan secara layak nih. Kita juga harus, contoh nih untuk minimal UMR lah ya, UMR habis itu kita juga harus survive.

Karena kami di sini tidak punya mentor ya ya, jadi semuanya based on riset. Bahkan alat-alat kami di sini yang kami pakai itupun adalah hasil riset saya pribadi. Harus ada juga tuh apa namanya saving untuk bagian riset tuh, karena kita untuk meningkatkan produksi, meningkatkan penyerapan sampah itu kan kita perlu mesin-mesin atau alat-alat tambahan kayak gitu.

Jadi dua itu tuh memang bener-bener harus balance. Dan ditambah juga sebenarnya ngurusin sampah itu kan memang mahal. Iya kan kalau itu sih dari dulu itu terlihatnya murah dan mudah itu karena nggak diurusin. Jadi profit yang kami dapat sejauh ini memang disasar untuk dua hal, satu adalah penyerapan sampah yang lebih banyak yang kedua adalah kesejahteraan dari tim kami itu.

Modalnya sendiri berapa untuk membangun ekosistem ini?

Wuih, kalau modal itu jujur ya, itu kan bertahap tuh. Tetapi saya masih ingat modal awal saya 2016 untuk membuat pertama kali terpikiran untuk membuat Rumah Plastik itu modal awal saya tuh Rp25 juta. Dari sanalah bergulir gitu lho ya.

Kita tidak bermain besar langsung besar gitu karena ya bisnis yang saya jalani kan tidak lazim nih. Tidak lazim, saya juga tidak punya mentor ditambah juga ya gitu jadi kita mulai tuh bertahap gitu lho awalnya Rp25 juta.

Ini kan berarti sudah berjalan 10 tahun ya. Nah, untuk bicara profitabilitas mungkin bisa disebutkan nggak sih berapa?

Kalau omzet kan naik turun ya. Nah, untuk omzet kami saat ini memang ya masih di bawah tidak harus PKP pastinya. Kami kan ngurusin pajak nih. Omzet kami per tahunnya itu masih ya tidak harus PKP gitu.

Itu tuh memang ada beberapa lini yang kita jalani, tidak hanya satu lini. Kita punya beberapa lini ya ya di Rumah Plastik itu ada divisinya nih. Ada divisi daur ulang di mana ngebuat sampah itu menjadi bahan baku habis itu bahan bakunya itu dijual ke pabrik ya, itu satu.

Yang kedua adalah produksi produk di mana kami buat-buat produk itu. Yang ketiga adalah kami juga di sini ada yang belajar, ada yang mau copy-paste gitu kami, jadi kita buatnya tuh kayak eco-tourism. Dan yang terakhir adalah, nah kebetulan nih banyak yang suka dengan mesin-mesin buatan kami jadi ya ujung-ujungnya ya ada divisi mesin juga. Begitu.

Kalau omzet yang kena pajak itu kan kalau saya baca itu di atas Rp4,8 miliar?

Betul.

Nah, berarti rentangnya di mana nih gitu?

Ya 60-70 persennya lah dari PKP.

5. Kiat mengelola bisnis daur ulang plastik

Rumah Plastik Mandiri. (Instagram/rumahplastik_mandiri)

Terakhir, untuk orang-orang yang ingin juga berkecimpung di bisnis pengolahan sampah plastik ini kira-kira kiat-kiatnya apa?

Kiat-kiatnya ya ya, yang pertama itu jangan... Jadi gini banyak orang yang membuat produk mirip seperti saya tapi itu tidak dari bahan daur ulang. Jadi mereka ngeklaim aja sebagai produk daur ulang.

Jadi, kiat pertama itu pasti cari mentor yang bener-bener menjalankan pola bisnis daur ulang tersebut. Karena yang kita cari itu bukan hanya profit, tapi juga penyerapan sampah secara berkala biar nggak nanti jatuhnya fokusnya itu bikin produk dan bahan bakunya malah beli virgin plastic lagi. Itu yang pertama.

Yang kedua pastinya investasi. Investasi itu dipikirkan banget business plan-nya. Perlakukan ini layaknya bisnis jangan layaknya kegiatan sosial. Karena kebanyakan kalau udah ngomongin sampah bahasanya itu adalah bakar uang. Bakar uang seakan-akan ini nih adalah pelayanan, pengabdian seperti itu.

Yang ketiga pastinya itu jangan pernah takut berinovasi karena kita belum ada pakem. Kita belum ada kayak umpamanya kayak kita bikin bengkel. Itu kan ada tuh pebisnis-pebisnis bengkel yang udah maju yang udah besar yang bisa dijadikan contoh gitu, kan kita kan belum ada. Dan tetap bawa apa namanya idealisme penyelamatan Lingkungan. Jangan sampai tergeser untuk ngejar ke profit full itu aja sih.

Intinya keseimbangan seperti yang tadi disinggung ya?

Betul karena sangat rentan sekali... Soalnya kan untuk bikin sebuah produk gitu kan kita perlu bahan baku nih ya. Bahan baku kita memang bisa didapat dari sampah. Tapi karena tadi saya jelaskan itu prosesnya itu lumayan panjang sampai itu jadi bahan baku, kebanyakan dari mereka itu tidak sabaran dan ujung-ujungnya malah cari plastik ori gitu lho bukan plastik daur ulang.

Itu yang terjadi gitu dari konsep awal yang kita menyelamatkan menyerap sampah dan menyelamatkan lingkungan malah jadinya nambah masalah sampah. Betul. Rentan banget di sana soalnya.

Editorial Team