Kisah Bisnis Kerupuk Rajungan dari Pesisir hingga Viral Berkat Jokowi

Kerupuk Rajungan “Mama Muda” asal Maros viral setelah dipromosikan Presiden Jokowi, mendorong peningkatan penjualan dan inovasi produk seperti varian rasa baru serta perluasan pasar ke berbagai kota.
Usaha ini berawal dari masa sulit pandemki COVID-19 ketika hasil tangkapan rajungan tak terserap pasar; pelatihan Blue Forests membantu ibu rumah tangga mengolah rajungan menjadi kerupuk bernilai jual tinggi.
Dengan dukungan pembiayaan PNM Mekaar dan BRI, Rita mampu memperluas produksi hingga menjangkau pasar nasional, menjaga kualitas manual, serta menghadirkan inovasi produk berbahan rajungan segar.
Jakarta, IDN Times - Di tengah geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia, Kerupuk Rajungan “Mama Muda” berhasil mencuri perhatian dan terus berkembang pesat. Produk ini bahkan sempat viral setelah dipromosikan oleh Presiden ke-7 Joko "Jokowi" Widodo, yang mengapresiasi keunikan kemasan serta kualitasnya pada 7 Maret 2024 lalu. Sejak itu, inovasi produk terus dilakukan, mulai dari varian rasa baru hingga perluasan pasar ke berbagai kota.
Di balik popularitas tersebut, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu rumah tangga dari desa pesisir dengan segala keterbatasannya. Kerupuk Rajungan “Mama Muda” berasal dari Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Desa kecil di wilayah pesisir ini mayoritas dihuni oleh nelayan pencari rajungan. Dari tempat inilah usaha tersebut lahir, tepatnya pada masa sulit pandemik COVID-19.
1. Hasil tangkapan rajungan sempat tidak terserap karena Covid-19

Kerupuk rajungan “Mama Muda” milik Rita mulai dirintis pada 2020, saat pandemik melanda. Kala itu, hasil tangkapan rajungan tidak terserap pasar karena ekspor terhenti, sehingga aktivitas ekonomi warga nyaris lumpuh.
Di tengah kondisi tersebut, organisasi lingkungan Blue Forests hadir memberikan pelatihan kepada para ibu rumah tangga. Mereka diajarkan cara mengolah rajungan menjadi kerupuk bernilai tambah.
“Pada saat COVID-19, kami tidak memiliki kegiatan. Akhirnya, tim Blue Forest berinisiatif mengajarkan kami membuat kerupuk rajungan, dan kami pun membentuk kelompok bernama Mama Muda,” ujar Rita kepada IDN Times, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, seiring waktu, ia mulai berani memasarkan produknya sendiri. Namun, perjalanan tersebut tidak mudah. Akses jalan yang buruk menjadi tantangan utama. Ia bahkan beberapa kali terjatuh saat membawa dagangan untuk dijual.
Pengalaman pahit juga dialaminya saat pertama kali mengikuti pameran di Makassar yang dihadiri oleh Sandiaga Uno. Dalam perjalanan, ia mengalami kecelakaan kecil dan justru diminta mengganti kerugian oleh pengendara lain.
2. Satu kali produksi butuh 10 kilogram rajungan

Pemilihan rajungan sebagai bahan utama bukan tanpa alasan. Hampir seluruh warga di kampung tersebut berprofesi sebagai nelayan rajungan. Rita menjelaskan bahan baku diperoleh dari hasil tangkapan suami atau dari pengepul jika pasokan kurang. Dalam satu kali produksi, dibutuhkan sekitar 10 kilogram rajungan segar yang dapat menghasilkan sekitar 120 bungkus kerupuk.
Proses produksinya masih tergolong sederhana. Rajungan segar dikukus, lalu dagingnya dipisahkan dari cangkang. Daging tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, merica, garam, serta telur.
"Selanjutnya, adonan dicampur dengan tepung terigu dan tapioka, dipipihkan, lalu digoreng hingga matang," ucapnya.
Satu kali produksi memakan waktu sekitar satu hari penuh, dari pagi hingga sore. Meski sebagian peralatan sudah mulai ditingkatkan dari hasil penjualan, proses penipisan adonan masih dilakukan secara manual.
3. Tergabung dalam program pembiayaan PNM sejak 2016

Rita mengaku mulai bergabung dengan program pembiayaan PNM Mekaar sejak 2016. Saat itu, ia mengajukan pinjaman awal sebesar Rp2 juta untuk memperkuat modal usaha.
Seiring berjalannya waktu, ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pengurusan perizinan usaha hingga penyuluhan keamanan pangan. Untuk mengembangkan usahanya lebih jauh, ia bahkan pernah mengakses tambahan pinjaman sebesar Rp30 juta dari Bank Rakyat Indonesia.
Berkat dukungan tersebut, usaha Kerupuk Rajungan “Mama Muda” terus berkembang. Kini, produknya tidak hanya dipasarkan di wilayah Maros, tetapi juga telah menjangkau berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor. Pemasaran dilakukan melalui media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram, serta melalui pameran dan kegiatan komunitas.
Tak hanya menyasar pasar domestik, produk ini juga diminati wisatawan mancanegara. Pengunjung dari China, Australia, Hong Kong, hingga Amerika Serikat yang datang ke desa tersebut kerap menjadikannya sebagai oleh-oleh khas.
“Dalam sebulan, penjualan rata-rata mencapai sekitar 1.000 bungkus, dengan omzet berkisar antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, tergantung jumlah pesanan,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan laman resmi PT Permodalan Nasional Madani (PNM), hingga Januari 2026 perusahaan ini telah memberdayakan 22,9 juta ibu di seluruh Indonesia. Sebanyak 73 persen pembiayaan yang disalurkan juga telah menggunakan akad syariah, sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan keuangan yang inklusif.
Dalam menjalankan programnya, PNM didukung oleh 42.167 tenaga pendamping perempuan yang berperan langsung dalam membina nasabah. Selain itu, terdapat 4.655 kantor layanan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pembiayaan dan pendampingan usaha.
4. Lakukan berbagai inovasi agar tetap eksis

Meski permintaan terus meningkat, ia tetap menjaga kualitas produk secara ketat. Proses pencampuran adonan bahkan masih ia lakukan sendiri untuk memastikan cita rasa tetap konsisten. Di sisi lain, UMKM tersebut juga mulai berinovasi dengan menghadirkan varian produk baru, seperti sambal dan abon berbahan rajungan.
“Kalau bukan saya yang mencampur adonannya, saya khawatir rasanya berubah,” ujarnya.
Selain proses produksi, kualitas bahan baku juga menjadi perhatian utama. Ia memastikan rajungan yang digunakan selalu dalam kondisi segar agar cita rasa produk tetap terjaga.
Saat ini, usaha “Mama Muda” melibatkan empat orang pekerja. Meski belum berencana menambah kapasitas produksi dalam waktu dekat, ia mulai menyiapkan inovasi baru, salah satunya pengembangan kerupuk berbahan baby crab.
Berasal dari desa dengan akses yang terbatas, Kerupuk Rajungan “Mama Muda” membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkembang. Dengan ketekunan, keberanian, serta dukungan berbagai pihak, usaha ini mampu menembus pasar yang lebih luas sekaligus mengangkat potensi lokal ke tingkat nasional.


















