Kinerja PNM 2026. (Dok/Istimewa).
Rita mengaku mulai bergabung dengan program pembiayaan PNM Mekaar sejak 2016. Saat itu, ia mengajukan pinjaman awal sebesar Rp2 juta untuk memperkuat modal usaha.
Seiring berjalannya waktu, ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pengurusan perizinan usaha hingga penyuluhan keamanan pangan. Untuk mengembangkan usahanya lebih jauh, ia bahkan pernah mengakses tambahan pinjaman sebesar Rp30 juta dari Bank Rakyat Indonesia.
Berkat dukungan tersebut, usaha Kerupuk Rajungan “Mama Muda” terus berkembang. Kini, produknya tidak hanya dipasarkan di wilayah Maros, tetapi juga telah menjangkau berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor. Pemasaran dilakukan melalui media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram, serta melalui pameran dan kegiatan komunitas.
Tak hanya menyasar pasar domestik, produk ini juga diminati wisatawan mancanegara. Pengunjung dari China, Australia, Hong Kong, hingga Amerika Serikat yang datang ke desa tersebut kerap menjadikannya sebagai oleh-oleh khas.
“Dalam sebulan, penjualan rata-rata mencapai sekitar 1.000 bungkus, dengan omzet berkisar antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, tergantung jumlah pesanan,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan laman resmi PT Permodalan Nasional Madani (PNM), hingga Januari 2026 perusahaan ini telah memberdayakan 22,9 juta ibu di seluruh Indonesia. Sebanyak 73 persen pembiayaan yang disalurkan juga telah menggunakan akad syariah, sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan keuangan yang inklusif.
Dalam menjalankan programnya, PNM didukung oleh 42.167 tenaga pendamping perempuan yang berperan langsung dalam membina nasabah. Selain itu, terdapat 4.655 kantor layanan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pembiayaan dan pendampingan usaha.