KKP Siapkan Rp371,8 Miliar untuk Pemulihan Pascabencana Sumatra

KKP mengalokasikan Rp371,8 miliar pada 2026 untuk pemulihan sektor kelautan dan perikanan terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang menjangkau 40 kabupaten/kota.
Sekitar 5.800 hektare tambak dan kolam telah kembali beroperasi di 27 kabupaten/kota setelah pembersihan lumpur dan material banjir menggunakan alat berat.
Pemulihan bertahap hingga 2028 mencakup tambak, keramba, kapal, alat tangkap, pengolahan ikan, produksi garam, dan pelabuhan; 506 rumah perebusan garam dibangun di Aceh.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalokasikan anggaran Rp371,8 miliar untuk memulihkan sektor kelautan dan perikanan pascabencana Sumatra. Pemulihan dilakukan secara bertahap pada 2026 hingga 2028, mulai dari perbaikan tambak, keramba, kapal, alat tangkap, hingga infrastruktur pelabuhan perikanan.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan bencana yang terjadi pada akhir 2025 berdampak luas terhadap sektor kelautan dan perikanan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Bencana yang terjadi di Sumatra yang kita ketahui sama-sama pada akhir 2025 lalu sangat berdampak luas di sektor kelautan dan perikanan di tiga provinsi dan 40 kabupaten/kota,” ujar Trenggono.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi terkait Perkembangan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Fasilitas Kelautan dan Perikanan Pascabencana Sumatra di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
1. Berasal dari anggaran belanja tambahan (ABT) dan pengalihan anggaran

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat) Trenggono menjelaskan, KKP mengalokasikan Rp371,8 miliar pada 2026 untuk mendukung pemulihan sektor kelautan dan perikanan di Sumatra. Anggaran tersebut terdiri dari Rp113,8 miliar melalui anggaran belanja tambahan (ABT) dan Rp258 miliar dari pengalihan anggaran atau repurposing.
Bencana Sumatra berdampak pada tiga provinsi yang mencakup lebih dari 33 ribu pelaku usaha, 41.799 unit sarana penangkapan ikan, 35.751 hektare tambak atau kolam, serta 1.475 unit keramba.
“Kemudian kami merancang secara bertahap perencanaan pemulihan selama 3 tahun dari 2026 hingga 2028,” kata Trenggono.
2. Sejumlah tambak dan kolam telah kembali beroperasi

Ilustrasi kawasan tambak garam yang terdiri dari petak-petak untuk proses produksi garam. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan/kkp.go.id) Trenggono menyebutkan, sekitar 5.800 hektare tambak dan kolam telah kembali beroperasi di 27 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.707 hektare berada di Provinsi Aceh, 73,67 hektare di Provinsi Sumatra Utara, dan 33,29 hektare di Sumatra Barat.
Untuk mempercepat pemulihan, KKP mengerahkan alat berat guna membersihkan lumpur dan material banjir yang menimbun tambak serta kolam.
“Banyak tambak yang tertimbun lumpur dan material banjir sehingga sulit dipulihkan hanya dengan tenaga manusia,” kata Trenggono.
3. KKP bangun 506 rumah perebusan garam di Aceh

ilustrasi tambak garam (pexels.com/Quang Nguyen Vinh) Trenggono mengatakan, proses pemulihan juga menyasar petambak garam di Aceh melalui pembangunan 506 rumah perebusan garam di lima kabupaten, yakni Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur.
“Sebanyak 15 unit di Bireuen sudah beroperasi, dan perebusan garam perdana telah dilakukan pada 9 Oktober lalu,” katanya.
Sementara itu, 491 unit lainnya masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada pekan kedua Desember 2026.
Selain itu, KKP juga merehabilitasi Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga di Sumatra Utara yang ditargetkan selesai pada pertengahan November 2026. Sebanyak 11 pelabuhan perikanan daerah di Aceh juga masuk dalam program pemulihan dan masih dalam tahap penyusunan desain teknis.
4. KKP targetkan pemulihan tambak, kapal, dan alat tangkap pada 2026

Ilustrasi petambak melakukan aktivitas produksi garam di kawasan tambak. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan/kkp.go.id) Trenggono menyebut pihaknya menargetkan 15.446 hektare tambak dan kolam kembali beroperasi pada 2026. Selain itu, ia menargetkan 1.030 unit keramba kembali aktif, dan menyalurkan 651 unit mesin dan kapal, serta 2.146 unit alat tangkap.
“Untuk tahun ini ditargetkan 15.446 hektare tambak dan kolam kembali beroperasi, 1.030 unit keramba aktif kembali,” ujar Trenggono.
KKP juga menargetkan penyaluran 375 paket sarana pengolahan ikan dan pengoperasian kembali 506 rumah perebusan garam.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan aktivitas ekonomi nelayan, pembudidaya ikan, petambak garam, dan pelaku usaha pengolahan hasil perikanan yang terdampak bencana.
5. Pemulihan sektor kelautan dan perikanan berlanjut hingga 2028

Satgas PRR Bahas Pemulihan Perikanan Sumatra, Butuh Rp371,8 Miliar, Rabu (21/10/2026) (IDN Times/Cantika Lutfiah) Trenggono menargetkan penyelesaian target kinerja pemulihan pada Desember 2026. Namun, sejumlah program rehabilitasi dan rekonstruksi akan dilanjutkan secara bertahap hingga 2028.
Program tersebut mencakup pemulihan tambak, keramba, mesin dan kapal, alat tangkap, sarana pengolahan ikan, fasilitas produksi garam, serta pelabuhan perikanan.
Trenggono menegaskan, pemulihan membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar kegiatan ekonomi masyarakat pesisir dapat kembali berjalan.
“Pemulihan infrastruktur pelabuhan perikanan di Sumatra adalah kerja bersama,” kata Trenggono.
Dia berharap program rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut dapat membantu memulihkan perekonomian masyarakat pesisir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.




















