Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Laba Bersih BNI di Kuartal I-2026 Capai Rp5,6 Triliun
Paparan kinerja BNI di kuartal I 2026. (Dok/Istimewa).
  • BNI mencatat laba bersih Rp5,6 triliun pada kuartal I-2026 dengan pertumbuhan kredit 20 persen yoy, menunjukkan ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian global dan dinamika geopolitik.
  • Pertumbuhan dana murah (CASA) 26,6 persen hingga Rp731,6 triliun memperkuat struktur pendanaan BNI, didukung platform digital wondr by BNI dan BNIdirect yang meningkatkan efisiensi serta pangsa pasar.
  • Kualitas aset membaik dengan rasio NPL turun ke 1,9 persen dan LDR 83,5 persen, menandakan ekspansi kredit sehat serta pengelolaan risiko yang disiplin mendukung kinerja keuangan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat kinerja solid pada kuartal I 2026, dengan pertumbuhan kredit mencapai 20 persen secara year on year (yoy) dan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun. Pencapaian ini diraih di tengah ketidakpastian global dan dinamika geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak, mendorong inflasi, serta mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pencapaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, peningkatan produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.

“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ujar Putrama, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).

1. Faktor penopang pertumbuhan kredit

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Untuk memperkuat pondasi permodalan, BNI melakukan penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai 700 juta dolar AS atau setara Rp 11,9 triliun pada April 2026. Penguatan permodalan ini meningkatkan kapasitas BNI untuk mengantisipasi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan.

Dalam paparannya, BNI berhasil mencatat pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Hingga Maret 2026, kredit BNI tumbuh 20 persen, ditopang oleh struktur pendanaan CASA yang semakin kuat dengan pertumbuhan 26,6 persen, sehingga mendukung efisiensi biaya dana di tengah tantangan pasar.

Putrama menjelaskan, peningkatan kredit dan DPK ini merupakan hasil transformasi bisnis melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment), yang memberdayakan kantor cabang dan cabang pembantu sebagai titik utama penjualan produk dan layanan perbankan.

“Pendekatan ini memastikan setiap lini organisasi memiliki peran yang jelas dan terintegrasi, sehingga eksekusi strategi bisnis berjalan lebih cepat, terarah, dan memberikan hasil optimal di masing-masing wilayah,” ujar Putrama.

2. Struktur pendanaan yang kuat jadi pendorong ekspansi kredit

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan kinerja keuangan BNI tumbuh positif dan seimbang, ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam memperkuat basis dana murah (CASA) yang semakin solid.

"Struktur pendanaan yang kuat ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, sekaligus menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat. Pencapaian dana pihak ketiga (DPK) yang kuat menjadi salah satu penopang utama kinerja keuangan BNI sepanjang kuartal I-2026.

Pertumbuhan dana murah (CASA) BNI mencapai 26,6 persen YoY menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7 persen dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 10,4 persen.

Pencapaian ini tidak diperoleh dengan singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI. Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1 persen di Maret 2025 menjadi 11,3 persen di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.

"Platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel," tuturnya.

3. Rasio NPL jadi 1,9 persen

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16 persen, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.

"Penguatan pertumbuhan CASA mendorong penyaluran kredit yang mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang sehat sebesar 20,1 persen menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.

Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1 persen. Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6 persen terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel.

Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.

"Dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9 persen, Loan at Risk berada di level 8,6 persen atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemik, serta credit cost di level 1,1 persen sesuai dengan guidance. Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I-2026," tuturnya.

Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 persen serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.

"Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujar Paolo.

Editorial Team