ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16 persen, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.
"Penguatan pertumbuhan CASA mendorong penyaluran kredit yang mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang sehat sebesar 20,1 persen menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.
Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1 persen. Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6 persen terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel.
Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.
"Dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9 persen, Loan at Risk berada di level 8,6 persen atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemik, serta credit cost di level 1,1 persen sesuai dengan guidance. Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I-2026," tuturnya.
Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 persen serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.
"Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujar Paolo.