logo Starbucks (pexels.com/Hendry and Co.)
Penataan jumlah karyawan ini sejalan dengan strategi pemulihan bisnis yang digagas oleh CEO Brian Niccol. Fokus utamanya adalah mempercepat waktu tunggu pesanan, menjaga pelayanan yang konsisten, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
"Strategi 'Kembali ke Starbucks' adalah langkah utama dari upaya pemulihan perusahaan, dan hal ini membuahkan hasil. Pekerjaan kami berjalan lebih cepat dari target yang ditentukan," kata Niccol, dilansir Business Insider.
Sebagai bagian dari perbaikan ini, posisi pimpinan teknologi (CTO) telah diganti sejak akhir 2025 untuk memperkuat sistem digital perusahaan. Selain mengubah susunan pekerja, Starbucks juga menutup sejumlah toko yang sepi pengunjung dan menyederhanakan pilihan menu.
Langkah ini mulai menunjukkan hasil positif. Pada awal 2026, laba bersih perusahaan naik 33 persen menjadi 510,9 juta dolar AS (Rp8,99 triliun), yang merupakan kenaikan keuntungan pertama dalam dua tahun terakhir.