Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melihat Kinerja Keuangan PTPP-ADHI yang Mau Merger, Lebih Sehat Mana?

5 min read
Melihat Kinerja Keuangan PTPP-ADHI yang Mau Merger, Lebih Sehat Mana?
Kantor pusat PT PP (Persero) Tbk (PTPP). (dok. PTPP)
  • Danantara menargetkan merger PTPP-ADHI dan Nindya Karya-Brantas Abipraya selesai bulan depan; entitas bertahan masih dikaji berdasarkan keuangan, tata kelola, dan SDM.

  • Semester I-2026, PTPP membukukan laba Rp193,47 miliar dengan pendapatan Rp5,96 triliun, sedangkan ADHI meraih laba Rp8,49 miliar dan pendapatan Rp3,11 triliun.

  • PTPP unggul dalam pendapatan, laba, aset, ekuitas, dan kas dibanding ADHI, tetapi menanggung liabilitas Rp38,99 triliun, lebih tinggi daripada liabilitas ADHI Rp24,21 triliun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia mulai mengeksekusi konsolidasi besar-besaran di sektor BUMN konstruksi. Bulan depan, empat BUMN karya ditargetkan rampung menggelar aksi penggabungan usaha (merger), yakni PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), serta PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Brantas Abipraya (Persero).

Langkah taktis ini diambil demi memperkuat struktur permodalan serta efisiensi operasional BUMN karya di tengah dinamika industri infrastruktur tanah air.

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan pihaknya masih mengkaji BUMN mana yang yang akan menjadi entitas bertahan alias surviving entity. Dia mengatakan, hal itu masih dalam kajian.

“Surviving entity-nya lagi dikaji oleh teman-teman. Ya tentu dilihat dari berbagai macam aspeknya. Kita tidak terlalu fokus kepada siapa menang, dan bukan menang dan kalahnya,” ujar Dony di Jakarta.

Tapi bagaimana kemudian mereka bersatu menjadi perusahaan yang baik,” tutur Dony pada Kamis, (8/10/2026) lalu.

Menurutnya, perusahaan yang akan menjadi surviving entity itu harus dikaji dari sisi kinerja keuangan dan kapasitas internal, mencakup tata kelola organisasi hingga sumber daya manusia (SDM).

“Lagi dikaji mana dari financial aspect maupun dari internal capabilities-nya tadi. Apakah organisasinya, orangnya semua di asesmen. Nah nanti tentu akan diumumkan,” ujar Dony.

Khususnya untuk PTPP dan ADHI, kedua perusahaan terbuka itu telah merilis laporan keuangan semester I-2026. Berikut rinciannya.

  1. 1. PTPP cetak laba Rp193 miliar

    Salah satu portofolio proyek gedung yang dikerjakan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). (dok. PT PP)
    Salah satu portofolio proyek gedung yang dikerjakan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). (dok. PT PP)

    PTPP mencatatkan laba Rp193,47 miliar pada semester I-2026.

    Angka tersebut mengalami lonjakan tajam sebesar 196,51 persen jika dibandingkan dengan capaian pada semester I-2025 yang tercatat sebesar Rp65,25 miliar.

    Meski laba meningkat, pendapatan usaha PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp5,96 triliun, turun sebesar 11,2 persen dari periode semester I-2025 yang mencapai Rp6,71 triliun.

    Padahal, beban pokok pendapatan perseroan melandai sebesar 10,2 persen menjadi Rp5,2 triliun pada semester I-2026, dibandingkan posisi semester I-2025 yang berada di angka Rp5,79 triliun.

    Total liabilitas PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp38,99 triliun, naik tipis 0,79 persen dari semester II-2025 yang sebesar Rp38,68 triliun.

    Kenaikan liabilitas itu didorong oleh liabilitas jangka panjang yang terkerek 9,97 persen dari Rp19,23 triliun pada 31 Desember 2025, menjadi Rp21,15 triliun per 30 Juni 2026. Sementara itu, liabilitas jangka pendek perseroan justru turun sebesar 8,28 persen dari Rp19,45 triliun pada akhir 2025, menjadi Rp17,84 triliun pada semester I-2026.

    Di sisi lain, ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp43,36 triliun pada semester I-2026, tumbuh 0,87 persen dibandingkan 31 Desember 2025 yang senilai Rp42,98 triliun.

    Posisi kas dan setara kas perseroan mengalami penurunan sebesar 59,55 persen dari Rp2,89 triliun pada semester II-2025 menjadi Rp1,17 triliun pada semester I-2026.

    Adapun total aset PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp43,36 triliun, mengalami peningkatan sebesar 0,87 persen dari pencapaian akhir 2025 yang sebesar Rp42,98 triliun.

  2. 2. ADHI cetak laba hingga Rp8,49 miliar

    IMG_7442.png
    Kantor pusat PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) di Cawang, Jakarta Timur. (dok. Adhi Karya)

    Berdasarkan lapor keuangan yang dirilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ADHI mencetak laba Rp8,49 miliar pada semester I-2026, naik 12,57 persen dibandingkan semester I-2025 yang sebesar Rp7,54 miliar.

    ADHI berhasil menurunkan beban pokok pendapatan pada semester I-2026 menjadi Rp3,11 triliun. Angka itu turun 3,92 persen dibandingkan semester I-2025 atau secara year on year (yoy).

    Meski beban pokok pendatan turun, perseroan justru mencatatkan penurunan pendapatan pada semester I-2026, menjadi hanya Rp3,11 triliun. Angka itu terkoreksi 18,36 persen jika dibandingkan dengan pendapatan usaha pada semester I-2025 yakni Rp3,81 triliun.

    Total liabilitas ADHI pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp24,21 triliun, atau turun 5,04 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang sebesar Rp25,5 triliun.

    Lebih rinci, liabilitas jangka pendek perusahaan per semester I-2026 mencapai Rp17,02 triliun, turun 12,52 persen dari Rp19,46 triliun pada semester II-2025.

    Namun, liabilitas jangka panjang tercatat naik 19,08 persen, dari Rp6,04 triliun per akhir 2025, menjadi Rp7,19 triliun pada semester I-2026.

    Sementara itu, ekuitas perseroan mengalami kenaikan sebesar 0,53 persen, dari Rp3,3 triliun pada 31 Desember 2025, menjadi Rp3,31 triliun pada semester I-2026.

    Posisi kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp813,1 miliar per semester I-2026. Angka tersebut turun drastis sebesar 52,45 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

    Adapun posisi aset Adhi Karya per 30 Juni 2026 sebesar Rp27,53 triliun, turun 4,4 persen dibandingkan 31 Desember 2025 yang sebesar Rp28,79 triliun.

  3. 3. Mana yang lebih sehat?

    Kantor Kementerian BUMN. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
    Kantor Kementerian BUMN. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

    Melihat capain tersebut, dapat dilihat PTPP memiliki skala bisnis yang lebih besar dibanding ADHI, dengan pendapatan mencapai Rp5,96 triliun. Capain itu menunjukkan pendapatan PTPP 91,64 persen lebih tinggi dibandingkan ADHI yang sebesar Rp3,11 triliun.

    Kemudian, PTPP mencatatkan laba bersih yang jauh lebih dominan sebesar Rp193,47 miliar, dibandingkan ADHI yang mencetak laba bersih Rp8,49 miliar.

    Dari sisi struktur aset dan ekuitas, total aset PTPP Rp43,36 triliun, jauh melampaui ADHI yang sebesar Rp27,53 triliun.

    Selain itu, struktur permodalan/ekuitas PTPP mencapai Rp43,36 triliun, sementara ADHI berada di angka Rp3,31 triliun.

    Dari sisi likuiditas, PTPP memegang posisi kas dan setara kas yang lebih kuat sebesar Rp1,17 triliun dibandingkan ADHI sebesar Rp813,1 miliar. Dengan demikian, PTPP lebih unggul 43,89 persen.

    Meski begitu, total liabilitas PTPP lebih besar, yakni Rp38,99 triliun. Liabilitas PTPP juga masih mencatatkan kenaikan 0,79 persen (yoy). Sementara, total liabilitas ADHI sebesar Rp24,21 triliun, turun 5,04 persen (yoy).

    Kedua perusahaan sama—sama berhasil menurunkan liabilitas jangka pendek. Untuk PTPP, turun 8,28 persen, dan ADHI turun 12,52 persen. Nilai liabilitas jangka pendek keduanya relatif berimbang, namun PTPP hanya sedikit lebih besar 4,82 persen.

    Adapun, liabilitas jangka panjang PTPP dan ADHI naik. Untuk PTPP naik 9,97 persen, dan ADHI naik 19,08 persen. PTPP memikul liabilitas jangka panjang jauh lebih besar, yaitu nyaris 3 kali lipat (194,16 persen lebih tinggi) dibanding ADHI.

    Secara keseluruhan, PTPP tercatat memiliki total liabilitas memiliki total liabilitas 61,05 persen lebih besar dibanding ADHI.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More