ilustrasi hobi, kolektor, koleksi komik (unsplash.com/Tom Caillarec)
Contoh efek endowment dapat dilihat dari seseorang yang memiliki satu kotak wine dengan harga relatif sederhana. Ketika ada orang lain yang menawarkan untuk membelinya dengan harga pasar yang sedikit lebih tinggi dari harga pembelian, pemiliknya bisa saja menolak tawaran tersebut.
Padahal, jika tawaran diterima, pemilik wine akan mendapatkan keuntungan secara finansial. Namun, efek endowment dapat membuat pemilik memilih menunggu tawaran yang menurutnya lebih sesuai atau bahkan mengonsumsi wine tersebut sendiri.
Kepemilikan membuat nilai wine tersebut menjadi lebih tinggi dalam pandangan pemiliknya. Hal serupa dapat terjadi pada pemilik barang koleksi hingga perusahaan yang menganggap sesuatu yang mereka miliki lebih bernilai dibandingkan penilaian pasar.
Dalam teori pilihan rasional yang menjadi dasar teori ekonomi mikro dan keuangan modern, perilaku seperti itu dianggap tidak rasional. Ekonom perilaku dan akademisi keuangan perilaku menjelaskannya sebagai dampak bias kognitif yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.
Secara rasional, nilai wine seharusnya sama dengan harga pasarnya. Sebab, seseorang dapat membeli wine yang identik dengan harga tersebut setelah menjual atau melepaskan wine yang sudah dimiliki.
Ada dua alasan psikologis utama yang berkaitan dengan efek endowment:
Pertama, kepemilikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung memberikan nilai lebih tinggi pada barang yang sudah dimiliki dibandingkan barang serupa yang belum menjadi miliknya. Efek ini tetap dapat terjadi baik barang tersebut dibeli maupun diperoleh sebagai hadiah.
Kedua, keengganan terhadap kerugian. Faktor ini menjadi salah satu alasan investor mempertahankan aset atau transaksi yang tidak menguntungkan. Melepaskan aset pada harga pasar yang berlaku dapat dianggap tidak sesuai dengan nilai yang mereka persepsikan.