Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
MSCI Tetap Bekukan Saham RI, Bagaimana Dampaknya ke IHSG?
MSCI/CNBC Indonesia
  • MSCI memutuskan tetap membekukan rebalancing saham Indonesia dalam indeks globalnya, termasuk pembatasan peningkatan FIF dan NOS, serta tidak menambah saham RI ke indeks baru.
  • IHSG justru menguat meski ada keputusan MSCI, karena pasar sudah mengantisipasi kebijakan tersebut dan didukung faktor domestik seperti fundamental ekonomi stabil serta ekspektasi penurunan suku bunga global.
  • Pembekuan ini membatasi arus dana pasif ke pasar Indonesia, sementara investor kini menanti tinjauan MSCI pada November 2026 untuk melihat hasil reformasi yang dilakukan regulator.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - MSCI Inc memutuskan tetap melakukan pembekuan rebalancing saham Indonesia dalam tinjauan indeks Agustus mendatang. Dalam pengumuman terbarunya, Selasa (7/7/2026), MSCI memberlakukan pembekuan pada saham Indonesia yang tercatat dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI). Adapun kebijakan itu meliputi pembekuan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Lalu, MSCI juga tak akan melakukan penambahan indeks ke dalam MSCI Investable Market Indexes bagi saham Indonesia. Saham Indonesia yang berada di Global Small Cap Index juga tak akan naik kelas ke Global Standard Index.

MSCI juga akan tetap menghapus saham-saham yang teridentifikasi oleh otoritas di Indonesia sebagai High Shareholding Concentration (HSC). MSCI juga akan terus menggunakan data pengungkapan pemegang saham 1 persen untuk menyesuaikan perkiraan saham yang beredar atau free float jika diperlukan.

Bagaimana dampaknya ke IHSG? Apakah keputusan ini memperkeruh sentimen negatif investor?

1. Bukan kejutan bagi pasar

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG tetap menunjukkan penguatan seharian ini. Pagi tadi, IHSG menguat 17,5 poin atau 0,3 persen ke 5.933,57. Sore ini, IHSG ditutup menguat 70,43 poin atau 1,19 persen ke level 5.986,5. Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan pengumuman MSCI terbaru itu sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.

“Dengan demikian, keputusan mempertahankan freeze bukan lagi merupakan kejutan atau negative surprise bagi pelaku pasar,” kata Nafan Aji saat dihubungi IDN Times.

Oleh sebab itu, dia menilai dampak keputusan MSCI pada IHSG relatif terbatas.

Dia mengatakan, pergerakan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor domestik dan sentimen global yang sedang membaik, seperti ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilnya fundamental ekonomi Indonesia, kinerja emiten yang relatif solid, serta meningkatnya minat investor terhadap saham-saham yang secara valuasi masih menarik.

“Faktor-faktor tersebut sementara mampu mengimbangi sentimen negatif dari MSCI,” tutur Nafan Aji.

2. Masih ada yang perlu diantisipasi

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Di sisi lain, Nafan melihat keputusan MSCI melanjutkan pembekuan akan tetap membatasi potensi masuknya arus dana pasif (passive inflows) dari produk investasi yang mengacu pada indeks MSCI. Akibatnya, potensi re-rating valuasi sejumlah saham Indonesia juga menjadi lebih terbatas dibandingkan dengan keputusan pembatasan tersebut dicabut.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong.

“Selama masih dibekukan, peluang untuk memperoleh peningkatan aksesibilitas pasar atau menarik arus dana pasif tambahan dari produk investasi yang mengacu pada indeks MSCI menjadi lebih terbatas,” kata Lukman kepada IDN Times.

Dia menggarisbawahi pentingnya respons regulator dalam memperbaiki berbagai aspek yang menjadi perhatian MSCI, seperti efisiensi mekanisme perdagangan, kemudahan akses bagi investor asing, serta infrastruktur pasar secara keseluruhan.

“Apabila perbaikan tersebut dapat direalisasikan, maka peluang Indonesia untuk memperoleh penilaian yang lebih baik di masa mendatang akan semakin besar,” ucap Lukman.

3. Pasar menanti tinjauan MSCI pada November 2026 mendatang

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Kembali ke Nafan Aji, dia mengatakan perhatian para pelaku investor kini mulai bergeser ke evaluasi berikutnya, yakni Tinjauan Indeks MSCI (MSCI Index Review) di November 2026 mendatang.

“Momentum tersebut akan menjadi katalis yang lebih penting karena pasar ingin melihat apakah reformasi yang dilakukan OJK dan SRO dinilai sudah cukup oleh MSCI untuk membuka kembali normalisasi proses peninjauan indeks,” ucap Nafan Aji.

Secara keseluruhan, dia melihat fundamental pasar modal Indonesia masih kuat, namun tetap perlu mengantisipasi sentimen eksternal yang berpotensi muncul sewaktu-waktu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article