Rupiah Akhirnya Menguat Tipis, Ini Sentimen Pemicunya

- Rupiah ditutup menguat tipis 15 poin ke level Rp17.980 per dolar AS, didorong oleh kenaikan cadangan devisa pertama dalam enam bulan terakhir.
- Investor domestik masih bersikap wait and see sambil menunggu rilis data penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen yang akan keluar pekan ini.
- Indeks dolar AS bergerak terbatas karena pelaku pasar global menanti risalah rapat kebijakan FOMC dari bank sentral Amerika Serikat.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.980 per dolar AS, tercatat menguat dengan sebesar 15 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Cadangan devisa naik perdana setelah 6 bulan jadi penyelamat
Pengamat pasar uang Lukman Leong menyatakan pergerakan rupiah terpantau datar sepanjang hari, tetapi berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi sebagai respons positif atas kenaikan data cadangan devisa (cadev) atau pos dana darurat mata uang asing milik negara, yang mencatatkan pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir.
"Rupiah menguat merespon data cadev yang naik untuk pertama kali dalam enam bulan," kata dia.
2. Investor masih ambil sikap wait and see menanti data ritel
Lebih lanjut, Lukman menyebutkan para investor cenderung masih bersikap wait and see atau memantau situasi terlebih dahulu sembari berhati-hati. Sikap itu diambil untuk mengantisipasi perilisan beberapa data ekonomi penting Indonesia, yakni data penjualan ritel serta indeks kepercayaan konsumen yang menggambarkan tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
"Investor cenderung masih cenderung wait and see mengantisipasi beberapa data ekonomi domestik kedepan (Rabu dan Kamis) yaitu penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen," tuturnya.
3. Indeks dolar AS bergerak terbatas jelang risalah FOMC
Di sisi global, Lukman mengatakan indeks dolar AS terpantau bergerak range-bound atau tertahan dalam kisaran angka yang terbatas.
Menurutnya, pelaku pasar internasional juga memilih menahan diri dan bersikap wait and see guna menantikan rilis risalah pertemuan komite kebijakan bank sentral AS atau FOMC yang dijadwalkan segera keluar.
"Indeks dolar AS sendiri terpantau range-bound, dengan investor wait and see menantikan risalah pertemuan FOMC besok," kata dia.





















