Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Negara dengan Utang Rumah Tangga Tertinggi di Dunia 2026, Swiss Juara!
ilustrasi pejalan kaki di Amerika Serikat (unsplash.com/Vlad Hilitanu)
  • Swiss menempati posisi teratas utang rumah tangga dunia 2026 dengan rata-rata sekitar 149,5 ribu dolar AS per orang, didorong oleh harga properti tinggi dan sistem hipotek jangka panjang.
  • Negara maju seperti Australia, Denmark, Belanda, dan Kanada mendominasi daftar karena harga rumah mahal serta akses kredit mudah yang membuat masyarakat bergantung pada pinjaman besar.
  • Amerika Serikat mencatat total utang rumah tangga terbesar mencapai 21,2 triliun dolar AS, dengan tekanan meningkat akibat kenaikan suku bunga, gagal bayar kredit, dan biaya perumahan melonjak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Utang rumah tangga menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi ekonomi suatu negara. Semakin tinggi harga rumah, biaya hidup, dan akses kredit, biasanya semakin besar juga utang yang dimiliki masyarakatnya.

Menariknya, utang rumah tangga yang tinggi gak selalu berarti masyarakatnya miskin atau sedang kesulitan finansial. Di banyak negara maju, utang justru erat kaitannya dengan kepemilikan rumah, sistem kredit yang kuat, dan gaya hidup modern.

Data terbaru dari Institute of International Finance bekerja sama dengan UN World Population Prospects 2024 merilis daftar negara dengan utang rumah tangga tertinggi di dunia pada awal tahun 2026 (tepatnya periode Januari hingga Maret 2026). Siapa sangka, Swiss menjadi juaranya dengan angka yang bikin melongo. Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Swiss jadi negara dengan utang rumah tangga tertinggi

ilustrasi Switzerland, Swiss (unsplash.com/John Vimal Velpula)

Swiss berada di posisi paling atas dengan utang rumah tangga mencapai sekitar 149,5 ribu dolar AS per orang atau setara kurang lebih Rp2,4 miliar. Angka ini jauh melampaui negara lain seperti Luxembourg dengan 96 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,56 miliar, serta Norwegia dengan 87,9 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,43 miliar. Tingginya utang tersebut sebagian besar berasal dari kredit perumahan atau hipotek yang nilainya memang sangat mahal di Swiss.

Menariknya, kondisi ini bukan berarti warga Swiss hidup dalam krisis keuangan, lho. Sistem perbankan di sana justru mendorong masyarakat untuk mempertahankan cicilan rumah dalam jangka panjang. Kebijakan pajak dan sistem pinjaman membuat banyak pemilik rumah memilih tidak melunasi hipotek terlalu cepat karena dianggap lebih menguntungkan secara finansial.

2. Negara maju mendominasi daftar teratas

ilustrasi Belanda (unsplash.com/Alicja Ziaj)

Dari daftar negara dengan utang rumah tangga tertinggi, sebagian besar diketahui berasal dari negara maju. Australia berada di angka 83,1 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,35 miliar per orang, sementara Denmark mencapai 71,4 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,16 miliar. Belanda juga masuk daftar atas dengan utang rumah tangga sekitar 68,6 ribu dolar AS atau setara Rp1,11 miliar per orang.

Faktor utamanya adalah harga properti yang tinggi serta akses pinjaman yang sangat mudah bagi masyarakat. Di negara-negara tersebut, memiliki rumah sering kali membutuhkan pinjaman dalam jumlah besar dan tenor panjang. Selain itu, masyarakat juga terbiasa menggunakan kartu kredit, pinjaman kendaraan, dan berbagai bentuk kredit konsumsi lainnya.

3. Amerika Serikat punya total utang terbesar di dunia

ilustrasi perumahan di Amerika Serikat (unsplash.com/Jane Sorensen)

Walaupun secara per kapita Amerika Serikat berada di posisi ketujuh dengan 60,6 ribu dolar AS atau sekitar Rp987 juta per orang, total utang rumah tangganya menjadi yang terbesar di dunia. Pada kuartal pertama 2026, total utang rumah tangga di AS mencapai sekitar 21,2 triliun dolar AS atau setara kurang lebih Rp345 ribu triliun. Sebagian besar utang ini berasal dari sektor hipotek atau kredit rumah.

Namun, tekanan finansial mulai terlihat di beberapa sektor lain. Kredit mobil dan kartu kredit mengalami peningkatan gagal bayar cukup tajam sejak 2021 hingga 2025. Selain itu, aktivitas penyitaan rumah juga naik sekitar 26% dibanding tahun sebelumnya, walaupun masih jauh lebih rendah dibanding krisis finansial 2008.

Biaya kepemilikan rumah di AS juga makin berat untuk pembeli baru. Rata-rata pembayaran hipotek meningkat sekitar 44% sejak 2021. Kenaikan tersebut membuat biaya perumahan bulanan bertambah sekitar 600 dolar AS atau sekitar Rp9,7 juta per bulan, sehingga banyak keluarga mulai merasakan tekanan ekonomi yang lebih besar.

4. Kanada dan Australia ikut menghadapi tekanan properti

ilustrasi Kanada (unsplash.com/Sandro Schuh)

Kanada menjadi salah satu negara dengan rasio utang rumah tangga terhadap pendapatan tertinggi di kelompok G7. Utang rumah tangga per kapitanya mencapai 58,8 ribu dolar AS atau sekitar Rp958 juta per orang. Pada pertengahan 2025, masyarakat Kanada memiliki utang sekitar 1,75 dolar AS untuk setiap 1 dolar AS pendapatan yang bisa dibelanjakan.

Sementara itu, Australia juga menghadapi kondisi serupa akibat harga rumah yang terus meningkat. Banyak keluarga harus mengambil kredit rumah bernilai besar agar bisa memiliki tempat tinggal. Di sisi lain, kenaikan suku bunga global membuat cicilan bulanan menjadi semakin mahal dan menambah tekanan pada keuangan rumah tangga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar properti menjadi faktor utama meningkatnya utang rumah tangga di negara maju. Ketika harga rumah naik terlalu cepat, masyarakat praktis gak punya banyak pilihan selain berutang dalam jumlah besar. Selama ekonomi tetap stabil, kondisi ini masih dianggap aman, tapi risikonya bisa meningkat saat ekonomi melambat.

5. Utang tinggi tidak selalu buruk, tapi tetap berisiko

ilustrasi utang, cicilan, KPR (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Banyak orang langsung menganggap utang sebagai sesuatu yang negatif. Padahal di negara maju, utang sering dipakai sebagai alat untuk membangun aset seperti rumah atau investasi jangka panjang. Tingginya utang rumah tangga kadang justru mencerminkan kuatnya akses kredit dan tingginya nilai kekayaan masyarakat.

Meski begitu, utang besar tetap memiliki risiko yang gak bisa dianggap sepele. Ketika suku bunga naik, cicilan ikut membengkak dan kemampuan bayar masyarakat bisa terganggu. Jika ekonomi melemah atau harga properti turun drastis, rumah tangga dengan utang tinggi menjadi lebih rentan mengalami masalah keuangan.

Karena itu, banyak negara kini mulai memperhatikan stabilitas utang rumah tangga dengan lebih serius. Pemerintah dan bank sentral terus memantau pasar properti serta kondisi kredit supaya gak memicu krisis finansial baru. Keseimbangan antara akses kredit dan kemampuan bayar masyarakat menjadi kunci penting bagi ekonomi modern.

Data utang rumah tangga global tahun 2026 menunjukkan bahwa negara-negara maju masih mendominasi daftar teratas, dengan Swiss sebagai juaranya. Tingginya utang ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh harga properti, sistem hipotek, dan kemudahan akses kredit dibanding sekadar kondisi ekonomi yang buruk. Amerika Serikat, Kanada, dan Australia juga menghadapi tantangan serupa akibat biaya perumahan yang terus melonjak.

Meski utang bisa membantu masyarakat memiliki aset dan meningkatkan kualitas hidup, risikonya tetap besar apabila gak diimbangi stabilitas ekonomi. Karena itu, memahami pola utang rumah tangga menjadi penting supaya kamu bisa melihat bagaimana kondisi ekonomi global sebenarnya bekerja di balik angka-angka besar tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team