Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Neraca Pembayaran dan Transaksi Berjalan RI Defisit Lebih Dalam Q1 2026
ilustrasi neraca pembayaran seimbang (Freepik.com/user21585500)
  • Bank Indonesia melaporkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I 2026 sebesar 9,1 miliar dolar AS, berbalik dari surplus pada kuartal IV 2025 di tengah ketidakpastian global.

  • Defisit transaksi berjalan melebar menjadi 4,0 miliar dolar AS akibat turunnya ekspor manufaktur dan menurunnya surplus neraca perdagangan barang nonmigas meski defisit jasa menyempit.

  • Transaksi modal dan finansial mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS karena penurunan investasi portofolio serta pembayaran pinjaman luar negeri, sementara investasi langsung tetap surplus.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I 2026 mencatat defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS, atau setara Rp160,16 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS). Defisit ini menjadi yang terdalam dibandingkan periode yang sama pada kuartal I 2024 hingga kuartal I 2025.

Posisi ini berbalik dibandingkan kuartal IV 2025, yang mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS. Melebar-nya defisit NPI sejalan dengan peningkatan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), serta berbaliknya transaksi modal dan finansial menjadi defisit.

Bank Indonesia menyatakan kinerja NPI tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terjaga, meski ketidakpastian pasar keuangan global meningkat,” tegas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).

1. Defisit transaksi berjalan kuartal I tembus Rp70,4 triliun

Ilustrasi transaksi keuangan (IDN Times/Arief Rahmat)

Ia menjelaskan transaksi berjalan mengalami defisit sebesar 4,0 miliar dolar AS atau setara dengan Rp70,4 triliun pada kuartal I. Bahkan, defisit ini melebar dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 2,5 miliar dolar AS. Menurut Denny, pelebaran defisit transaksi berjalan disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang, meskipun defisit neraca jasa menyempit.

“Surplus neraca dagang menurun karena ekspor turun seiring dengan perlambatan ekonomi global,” ujarnya.

Lebih rinci, ia menjelaskan penurunan surplus barang nonmigas dipengaruhi oleh rendahnya ekspor, terutama produk manufaktur seperti olahan makanan, batu bara, dan alat elektronik. Di sisi lain, defisit neraca migas menyempit seiring dengan penurunan surplus neraca dagang barang nonmigas.

“Penurunan defisit neraca migas dipengaruhi oleh berkurangnya impor, sejalan dengan penurunan produksi gas domestik,” tegasnya.

Sementara itu, neraca perdagangan jasa juga mencatat defisit yang lebih rendah, dipengaruhi oleh penyempitan defisit pada sektor jasa, termasuk jasa telekomunikasi dan jasa asuransi. Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer tercatat melebar dibandingkan kuartal IV 2025.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon atau bunga atas investasi portofolio. Namun, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian sebelumnya,” tambahnya.

2. Cadangan devisa di atas standar 3 bulan impor

Ilustrasi cadangan devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Denny juga menyampaikan posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujarnya.

3. Transaksi modal dan finansial defisit Rp86,24 triliun

Ilustrasi Modal. (IDN Times/Aditya Pratama)

Untuk transaksi modal dan finansial, kuartal I mencatatkan defisit sebesar 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp86,24 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS), setelah mencatat surplus 9 miliar dolar AS pada kuartal IV 2025.

“Penurunan ini dipengaruhi oleh menurunnya surplus investasi portofolio, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang mendorong kenaikan premi risiko,” jelasnya.

Sementara itu, investasi lainnya juga tercatat mengalami defisit, terutama dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan aset di luar negeri oleh pihak residen. Sedangkan investasi langsung tetap mencatatkan surplus, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang kondusif.

Editorial Team