Pengunjung berjalan didekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Sementara itu, di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan pada akhir kuartal I-2025 akibat sentimen negatif dari perdagangan global. Namun, IHSG mampu pulih berkat kebijakan adaptif dari OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti relaksasi buyback tanpa RUPS, penyesuaian batasan trading halt, dan penerapan asymmetric auto rejection.
“Setelah periode volatilitas tersebut, IHSG menunjukkan resiliensi yang tinggi dan mencatat sejumlah rekor sepanjang 2025, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga,” ujar Mahendra.
Pada akhir November 2025, IHSG ditutup di level 8.508,71, naik 4,22 persen secara bulanan (mtm) dan 20,18 persen sejak awal tahun (ytd). Pada 26 November 2025, IHSG kembali mencetak All-Time High di level 8.602,13, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp15.711 triliun.
Di pasar modal, IHSG sempat mengalami tekanan pada akhir kuartal I-2025 akibat pelemahan perdagangan global. Namun kondisi berbalik setelah OJK dan BEI mengeluarkan kebijakan adaptif, seperti relaksasi buyback tanpa RUPS, penyesuaian batas trading halt, dan implementasi asymmetric auto rejection.
“Setelah periode volatilitas tersebut, IHSG menunjukkan resiliensi yang tinggi dan mencatat sejumlah rekor sepanjang 2025, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga,” beber Mahendra.
IHSG menutup November 2025 di level 8.508,71 atau naik 4,22 persen (mtm) dan 20,18 persen (ytd). Pada 26 November 2025, IHSG kembali mencetak rekor sepanjang masa di 8.602,13 dengan kapitalisasi pasar menembus Rp15.711 triliun.